Pertumbuhan Perekonomian Dunia 2017

  27 Nov 2017     325 kali

Fitri Fenti Pertiwi

Optimisme yang kuat kembali muncul terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global 2017. Hal ini didapat dari hasil Pertemuan Tahunan International Monetary Funds-World Bank (IMF-WB Annual Meetings) 2017 yang dihadiri para Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dunia. Acara ini digelar pada 13-15 Oktober 2017 DI Washington DC, Amerika Serikat. IMF-WB Annual Meetings 2017 dihadiri oleh 189 negara, baik pemerintah, akademis hingga swasta. Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan dan Agus DW Martowardojo sebagai Gubernur Bank Indonesia hadir mewakili Indonesia dalam pertemuan tersebut.

Prospek pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,6% untuk tahun 2017 dan 3,7% di tahun 2018. Perbaikan pertumbuhan ekonomi dunia dinilai terjadi secara merata baik di negara maju maupun negara berkembang. Momentum tersebut merupakan sebuah berita baik di tengah ketidakpastian perekonomian dunia. Managing Director IMF, Christine Lagarde menyampaikan, berita baik ini sangat dapat berpengaruh pada permintaan ekspor dan terciptanya kesempatan kerja untuk banyak negara. Dalam hal Human Capital, Negara berkembang harus tetap fokus pada program pendidikan yang lebih baik lagi untuk mengejar ketertinggalan dari negara maju serta akan digunakannya teknologi robot otomatisasi dalam pekerjaan di masa depan. Perbaikan ini juga dinilai dari pemulihan krisis di Kawasan Eropa khususnya Spanyol dan Irlandia.

Sejalan Dengan berita baik yang disampaikan, ancaman risiko juga perlu diwaspadai oleh seluruh negara. Adanya potensi risiko yang patut diwaspadai ke depan, seperti risiko geopolitik yang berpotensi menimbulkan gejolak atau mengganggu momentum pemulihan , ketidakpastian kebijakan yang berdampak langsung pada sentimen global, penyesuaian harga aset, pengetatan di sektor keuangan yang berdampak pada negara berkembang, dan kemungkinan perlambatan ekonomi China. Ancaman lain juaga adanya reverse capital outflow karena kebijakan normalisasi moneter dari negara maju. Reformasi kebijakan moneter, fiskal, dan struktural sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengatasi potensi risiko yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi global kedepan.

Untuk Indonesia sendiri, Sri Mulyani mengungkapkan beberapa hasil pertemuan yang membahas minat pembangunan infrstruktur di Indonesia. Untuk sektor kelistrikan, ASEAN Finance Corporation (AFC), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), dan Jerman menyatakan minatnya untuk membantu Indonesia dalam memperbarui energy listriknya dengan melakukan proyek geothermal. Deputy Assitant Secretary Amerika juga membahas pembangunan infrastruktur, yaitu peranan multilateral development bank terutama dalam inovasi untuk pembangunan negara miskin dan model pembangunan Indonesia. Di sektor pertanian, Presiden The International Fund for Agricultural Development (IFAD) menyatakan akan membantu negara-negara anggotanya, termasuk Indonesia dalam sektor pertanian dan sektor pedesaan sebagai kebutuhan replenishment ke-18. Sri Mulyani menyarankan agar misi tersebut dilaksanakan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga lain seperti Bank Dunia. Sektor transportasi menarik minat ASEAN Finance Corporation (AFC) untuk meningkatakan partisipasi swasta melalui transportasi massal dan urbanisasi. Selain itu, Indonesia juga akan mendapatkan investasi untuk masalah air dan sanitasi serta akan dibantu dalam memitigasi kebakaran hutan atau forest management.

Bank Indonesia juga menyambut optimis prospek perbaikan pertumbuhan ekonomi global tersebut mengingatnya banyaknya dampak positif bagi Indonesia. Bank Indonesia dalam hal ini terus menjalankan tugasnya untuk menjaga kestabilan makroekonomi dan sistem keuangan di tengah upaya pemulihan ekonomi domestik serta terus menjalankan upaya pendalaman pasar keuangan untuk meningkatkan resiliensi ekonomi. Menurut Agus DW Martowardojo, kebijakan Indonesia saat ini telah sejalan dengan respon kebijakan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan perekonomian global ke depan. Sehingga, upaya untuk melanjutkan reformasi perlu terus dijalankan

Pengaruhnya di bidang asuransi juga dapat dirasakan apabila pertumbuhan perekonomian terjaga dan terus berkembang sesuai potensinya di luar dari risko global yang mengancam. Meningkatnya daya beli konsumen akan sejalan dengan perbaikan perekonomian yang terjadi. Selain itu membaiknya kondisi perekonomian juga diharapkan dapat membuat kesadaran masyarat terhadap pentingnya risiko menjadi lebih baik dan bidang asuransi dapat berkembang lebih pesat.

 

Referensi:

https://www.kemenkeu.go.id/

https://www.imf.org/

http://ekonomi.kompas.com/

Komentar





User Comment

Kirim Pesan

Your message was successfully sent!