24 June 2022 378
Reasuransi Jiwa

Ada Apa dengan BA.4 dan BA.5?

Sudah hampir dua minggu terakhir ini kita melihat tren peningkatan kasus Covid di Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. Per-21 Juni 2022 kemarin, sudah tujuh hari berturut-turut penambahan kasus Covid harian melebihi angka 1,000 kasus. Peningkatan kembali kasus Covid di Indonesia ini dikatakan terkait dengan terdeteksinya SARS-CoV-2 Varian Omicron Subvarian BA.4 dan BA.5 di Indonesia.
 
Sebenarnya, ada apa dengan BA.4 dan BA.5 sih? Mengapa mereka dapat menyebabkan kasus Covid di Indonesia kembali meningkat?
 
Meskipun dikatakan sebagai ‘varian baru’, pada dasarnya, BA.4 dan BA.5 ‘hanyalah’ dua subvarian dari SARS-CoV-2 Varian Omicron. Berdasarkan klasifikasi WHO dan CDC, kedua subvarian tersebut masih dianggap sebagai bagian dari Varian Omicron. Sebagai bagian dari ‘keluarga besar’ Varian Omicron, penderita Covid dari kedua subvarian ini masih mengalami gejala yang kurang-lebih sama, di antaranya adalah batuk, fatigue, hidung tersumbat atau justru hidung meler (rhinorrhea), demam, mual dan muntah, sesak nafas, diare, anosmia, maupun ageusia. Sampai saat ini masih belum ditemukan adanya bukti terkait perbedaan derajat keparahan penyakit antara Subvarian BA.4 dan BA.5 dengan Varian Omicron lainnya.
 
Di Indonesia sendiri, Subvarian BA.4 dan BA.5 pertama kali terdeteksi pada tanggal 6 Juni 2022 dengan ditemukannya empat kasus Covid yang memiliki keterkaitan dengan Subvarian BA.4 dan BA.5. Keempat penderita tersebut telah menerima Vaksin Covid dosis lengkap –bahkan booster-, dan tiga di antara penderita tersebut merupakan pelaku perjalanan yang menghadiri Pertemuan Global Platform Disaster Risk Reduction di Bali pada tanggal 23 – 28 Mei 2022. Tiga penderita di antaranya tidak mengeluhkan gejala apapun, sementara satu penderita ‘hanya’ mengeluhkan gejala ringan berupa nyeri tenggorokan dan badan pegal-pegal.
 
Meskipun dapat dikatakan ‘baru’ ditemukan di Indonesia, nyatanya, kedua subvarian ini telah marak ditemukan di berbagai negara lainnya sebelum ini. Bahkan, Eropa telah menetapkan Varian Omicron BA.4 dan BA.5 sebagai Variant of Concern (VOC) pada bulan Mei 2022 lalu. Hal tersebut lantaran kedua subvarian tersebut memiliki efek yang signifikan pada penularan Covid di masyarakat dan memiliki efek terhadap imunitas manusia yang cukup menjadi concern.
 
Berdasarkan data dan studi yang ada, Subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki mutasi yang kurang-lebih masih serupa dengan SARS-CoV-2 Varian Omicron Subvarian BA.1 dan BA.2. Hanya saja, berdasarkan substitusi asam amino yang ada, Subvarian BA.4 dan BA.5 mengandung substitusi asam amino L452R, F486V, dan R493Q dalam spike receptor binding domain-nya. Mutasi L452R sendiri telah diketahui terdeteksi pada SARS-CoV-2 Varian Delta, yang membuat Varian Delta menjadi lebih menular dan memiliki kemampuan immune escape yang tinggi. Mutasi F486V pun diketahui juga membuat Varian Delta ‘lihai’ dalam mengenali sistem imun.

 
Bagaimana cara kita untuk mendeteksi Subvarian BA.4 dan BA.5?
 
Pada dasarnya, pemeriksaan swab PCR dan swab antigen yang selama ini dilakukan masih mampu untuk mendeteksi seseorang yang menderita Covid Subvarian BA.4 atau BA.5. Meskipun demikian, tentunya baik pemeriksaan PCR maupun antigen hanya dapat mengkonfirmasi apakah seseorang menderita Covid atau tidak, dan tidak dapat membedakan varian atau subvarian apakah yang diderita oleh seseorang. Untuk memastikan varian atau subvarian yang diderita, haruslah melalui pemeriksaan genome sequencing, yang sayangnya tidak dapat dilakukan di semua tempat, butuh waktu pemeriksaan yang relatif lama, dan harganya pun tidak dapat dikatakan murah.
 
Bagaimana metode pengobatan bagi orang yang menderita Covid Varian Omicron Subvarian BA.4 atau BA.5?
 
Dari segi pengobatan, masih sama dengan penderita Covid varian apapun, penderita Subvarian BA.4 dan BA.5 akan mendapatkan pengobatan sesuai dengan gejala, tingkat keparahan penyakit, serta komorbid yang dideritanya (jika ada). Untuk penderita tanpa gejala (asymptomatic) umumnya hanya akan diberikan vitamin, obat anti-piretik/analgesik (dapat diminum jika diperlukan), serta dilakukan pengobatan suportif seperti istirahat yang cukup, mengkonsumsi makanan bergizi, dan mencukupi kebutuhan cairan.
 
Untuk penderita gejala ringan akan diberikan obat anti-virus (Favipiravir, Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir), obat-obatan symptomatic (sesuai gejala yang dideritanya), serta saran untuk melakukan pengobatan suportif. Untuk penderita asymptomatic dan gejala ringan dapat melakukan isolasi mandiri di tempat tinggalnya, selama penderita mampu memonitor kondisi kesehatan dan perkembangannya. Adapun beberapa alat kesehatan yang disarankan untuk dimiliki selama isolasi mandiri adalah thermometer, oximeter, dan tabung oksigen/oxy-can.
 
Sementara untuk penderita gejala sedang, berat, atau penderita dengan komorbid, umumnya akan sangat direkomendasikan untuk menjalani perawatan di rumah sakit, agar dapat terobservasi dengan baik oleh dokter dan tenaga medis lainnya.
 
Dikarenakan keberadaan kedua subvarian ini masih relatif baru, belum bisa dipastikan lebih lanjut apakah ada gejala ‘baru’ yang tidak ditemui pada penderita Varian Omicron sebelumnya. Masih harus dipastikan lebih lanjut juga, apakah penderita dari kedua subvarian ini memiliki prognosis yang berbeda dalam hal mortalita dan morbidita, jika dibandingkan dengan penderita Varian Omicron pada umumnya.
 
Apakah jika dulu kita sudah pernah terinfeksi Covid Varian Omicron, kita masih akan bisa terinfeksi Subvarian BA.4 atau BA.5? Sayangnya demikian. Studi terbaru menunjukkan bahwa seseorang yang sudah pernah terinfeksi Covid Omicron masih mungkin untuk terinfeksi Subvarian BA.4 atau BA.5, walaupun orang tersebut telah menerima Vaksin Covid dosis lengkap atau bahkan booster.
 
Dikutip dari studi yang dipublikasikan pada Straits Times, seseorang yang dulunya terinfeksi Covid Omicron BA.1 dan telah menerima Vaksin Covid, tubuhnya akan membantuk antibodi yang dapat menetralisir virus yang nantinya mungkin akan datang. Tetapi, studi tersebut menyebutkan bahwa Subvarian BA.4 dan BA.5 mampu menghindari antibodi tersebut, sehingga ex-penderita Covid Omicron BA.1 masih sangat mungkin untuk terinfeksi Subvarian BA.4 dan BA.5.
 
Bagaimana kita dapat menyikapi hadirnya Subvarian BA.4 dan BA.5 di antara kita?
 
Sebenarnya, pada hakikatnya, metode pencegahan agar kita tidak tertular kedua subvarian ini sama saja dengan metode pencegahan Covid varian atau subvarian manapun, yaitu dengan menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar, seperti menggunakan masker, menghindari keramaian (physical distancing), dan mencuci tangan terutama setelah memegang properti publik.
 
Mungkin sebelumnya, Pemerintah Indonesia telah mengumumkan kebijakan bahwa masyarakat diperbolehkan untuk ‘melonggarkan’ protokol kesehatannya, salah satunya dengan tidak diwajibkannya penggunaan masker di lingkungan outdoor yang tidak padat. Meskipun demikian, ada baiknya bahwa peningkatan kasus Covid akhir-akhir ini dapat kita jadikan pertimbangan lebih saat kita ‘tergoda’ untuk melonggarkan protokol kesehatan kita, terutama saat kita berada di tempat umum. Kita harus lebih bijak saat akan melepas masker kita, terutama saat kita berada di lingkungan indoor yang sirkulasi udaranya kurang baik (misalnya, full AC). Hal tersebut juga lantaran Subvarian BA.4 dan BA.5 disebut memiliki titer yang lebih kuat dan besar saat dideteksi pada hidung, sehingga kita harus lebih disiplin lagi dalam penggunaan masker.
 
Anjuran lainnya dalam menyikapi hadirnya kedua subvarian tersebut tentu saja adalah dengan menggenjot kembali laju Vaksinasi Covid, baik itu untuk vaksinasi dasar (dua dosis) maupun vaksinasi booster. Memang, pemberian Vaksin Covid tidak lantas membuat penderitanya kebal dan tidak dapat terinfeksi Covid. Meskipun demikian, harus diingat bahwa hakikat dari Vaksinasi Covid sendiri adalah menghindari terjadinya gejala berat dan fatalitas pada penerimanya. Istilahnya, pahit-pahit nih, kita terinfeksi Covid, dengan kita telah menerima Vaksin Covid dosis lengkap –lebih bagus lagi kalau sudah booster juga-, kemungkinan besar, gejala yang kita alami ‘hanyalah’ gejala ringan saja, atau malah bisa tidak mengalami gejala apapun (asymptomatic).
 
Anjuran berikutnya adalah agar kita lebih dapat menjaga keluarga, rekan, dan orang-orang terdekat kita yang termasuk dalam populasi rentan, yaitu balita, lansia, dan orang dengan komorbid. Dicky Budiman selaku Epidemiolog dari Griffith University menyatakan bahwa Subvarian BA.4 dan BA.5 memiliki potensi fatalitas yang sama atau lebih berat dibading Varian Delta, jika terjadi pada lansia, penderita komorbid, dan balita yang belum menerima Vaksin Covid. Dicky Budiman menyebutkan bahwa kedua subvarian tersebut dapat menyebabkan dampak yang sangat serius, terutama bagi orang-orang dengan imunitas yang kurang baik.
 
Stay safe and healthy, semuanya!

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id