02 July 2018 4940

Cystitis

Cystitis, sesuai dengan namanya, kondisi ini merupakan peradangan yang terjadi pada kandungkemih. Sebagian besar kasus cystitis disebabkan oleh infeksi bakteri – umumnya, bakteri bernama Escherichia coli- pada saluran kemih, yang biasa disebut dengan infeksi saluran kemih (ISK). Infeksi tersebut awalnya terjadi pada ginjal, urethra, atau ureter yang kemudian menjalar ke kandung kemih. Walaupun demikian, pada beberapa kasus, cystitis dapat terjadi tanpa adanya infeksi bakteri.

Sumber Gambar : drelist.com

Bakteri Escherichia coli, salah satu penyebab terjadinya cystitis.

Beberapa hal lain yang dapat menyebabkan cystitis di antaranya adalah:

  1. Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya cyclophosphamide dan ifosfamide
  2. yang merupakan obat kemoterapi untuk pasien kanker
  3. Radiasi pada area pelvic
  4. Penggunaan kateter, terutama untuk jangka waktu lama
  5. Eksposure bahan kimia, seperti spermicidal, pembersih area kewanitaan, dan sabun tertentu pada area kelamin
  6. Penyakit tertentu, seperti diabetes, batu ginjal, dan penyakit pada prostat

 

Beberapa kelompok orang memiliki faktor risiko terkena cystitis lebih tinggi dibanding orang lainnya. Berikut adalah beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan seseorang rentan terkena cystitis:

  1. Aktif secara seksual
  2. Penggunaan kontrasepsi tertentu, seperti diafragma yang mengandung spermicidal
  3. Hamil, yang memang secara umum rentan terkena ISK
  4. Menopause, akibat terjadi perubahan hormonal
  5. Gangguan sistem imun, seperti penderita HIV-AIDS atau pasien kanker yang menjalani kemoterapi

 

Cystitis bukan merupakan kondisi yang mengancam jiwa, namun dapat sangat mengganggupenderitanya, karena seperti jenis ISK lainnya, cystitis ditandai oleh adanya gangguan pada fungsi berkemih. Mulai dari sensasi terbakar atau tidak nyaman pada saat berkemih, aliran urine yang terputus-putus pada saat berkemih, sensasi ‘anyang-anyangan’, nyeri pada area perut bawah dan pelvic, urgensi dalam berkemih (tidak mampu menahan keinginan berkemih), adanya darah pada urine, urine yang berwarna keruh atau berbau menyengat, serta demam yang bersifat subfebril.

Diagnosis cystitis dapat ditegakkan melalui pemeriksaan urine, pemeriksaan pencitraan –seperti USG atau x-ray abdomen-, dan cystoscopy. Dengan pemeriksaan urine, dapat dideteksi adanya tanda-tanda infeksi pada saluran kemih. Pemeriksaan pencitraan pada perut akan menunjukkan gambaran dari kandung kemih, untuk melihat apakah terdapat penebalan (yang dapat menandakan adanya infeksi), batu, atau tumor pada kandung kemih. Sedangkan untuk pemeriksaan cystoscopy, dokter akan memasukkan selang kecil yang terdapat lampu serta kamera di dalamnya. Selang ini akan dimasukkan ke kandung kemih melalui urethra, dengan tujuan untuk melihat gambaran kandung kemih dari sisi dalam.

Sumber Gambar : mayoclinic.org

Gambaran cystitis.

 

Sumber Gambar : seug.com

Hasil pemeriksaan cystoscopy pada kasus cystitis.

Walaupun bukan merupakan penyakit yang berbahaya, cystitis dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti infeksi pada ginjal yang tentunya dapat menyebabkan gangguan pada fungsi ginjal. Oleh karena itu, penanganan dari cystitis harus dilakukan dengan baik untuk mencegah terjadinya komplikasi. Dokter umumnya akan meresepkan antibiotic (untuk cystitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri) serta analgesic untuk mengurangi rasa nyeri dan tidak nyaman yang dialami pasien.

Sumber Gambar : top10homeremedies.com

Beberapa tindakan untuk mengobati cystitis.

Untuk cystitis yang disebabkan oleh masalah hormonal, dokter akan memberikan pengobatan hormone untuk dapat mengatasi penyebab cystitis. Misalnya, pada wanita yang terkena cystitis karena faktor menopause, dokter akan meresepkan cream estrogen untuk dioleskan ke area vagina untuk membantu menstabilkan hormone di area tersebut.

Untuk cystitis yang disebabkan oleh bahan kimia, dokter akan melakukan ‘flushing’ untuk ‘membersihkan’ area yang terkena eksposure bahan kimia.

Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Oleh karena itu, kita sebaiknya melakukan tindakan pencegahan untuk menghindari risiko terjadinya cystitis atau jenis ISK lainnya. Berikut adalah beberapa tips yang boleh dicoba untuk dapat mencegah terjadinya cystitis atau jenis ISK lainnya:

  1. Jaga hidrasi tubuh, tentunya dengan banyak mengkonsumsi air putih sesuai dengan kebutuhanmasing-masing. Ingat, air putih yaa. Teh, kopi, sirop, dan bentuk minuman lain tidak dihitungsebagai konsumsi harian cairan
  2. Jangan menahan keinginan berkemih
  3. Membersihkan area kelamin dari arah depan ke belakang setelah berkemih. Ingat, bukan dari arah belakang ke depan, ya!
  4. Bersihkan area kelamin dengan lembut dan dengan cairan pembersih yang sesuai dengan pH areakelamin
  5. Bersihkan area kelamin segera setelah melakukan hubungan seksual
  6. Hindari penggunaan bahan kimia dan eksposure radiasi pada area kelamin
  7. Konsumsi jus cranberry yang baik untuk mengurangi risiko ISK

***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id