23 April 2018 1160

Eclampsia

Eclampsia merupakan tahap lebih lanjut sekaligus komplikasi dari pre-eclampsia. Kondisi ini ditandai oleh adanya onset kejang dalam bentuk grand-mal dan/atau koma yang dialami oleh wanita hamil atau post-partum. Sama seperti pre-eclampsia, kondisi ini umumnya dapat muncul mulai dari usia kehamilan 20 minggu. Walaupun demikian, menurut statistik, sebagian besar kasus ini muncul pada trimester ketiga kehamilan.

Secara umum, kejang yang terjadi selama eclampsia digolongkan dalam dua fase. Fase yang pertama diawali dengan kedutan pada wajah, yang kemudian diikuti oleh kekakuan pada tubuh dan kontraksi otot seluruh tubuh. Fase pertama ini berlangsung selama 15 – 20 detik, sebelum kemudian masuk ke fase kedua.

Fase kedua eclampsia berlangsung sekitar 60 detik. Pada fase ini terdapat kontraksi dan relaksasi bergantian pada otot dagu, wajah, mata, dan akhirnya menjalar ke seluruh tubuh. Setelah melewati fase kedua, penderita biasanya mengalami penurunan kesadaran, bahkan dapat mencapai koma. Setelah kesadaran pulih, biasanya penderita mengalami perubahan emosi dan agitasi. Pada beberapa kasus juga dilaporkan adanya gangguan pernapasan yang persisten.

Sumber Gambar : Healthlifemedia

 

Sama seperti pre-eclampsia, penyebab dari eclampsia masih belum dapat ditentukan dengan pasti. Namun beberapa kondisi dipercaya sebagai faktor risiko dari eclampsia, misalnya riwayat pre-eclampsia atau eclampsia sebelumnya, gangguan pada kehamilan sebelumnya –misalnya IUGR atau kematian janin-, kehamilan kembar, kehamilan pada usia remaja, kehamilan pada usia lebih dari 35 tahun, serta primigravida/nulliparity. Beberapa kondisi kesehatan seperti obesitas, hipertensi, penyakit ginjal, serta diabetes gestational juga dipercaya dapat mencetuskan eclampsia.

Eclampsia dapat menyebabkan gagal fungsi dari berbagai organ, termasuk ginjal, liver, serta jantung. Eclampsia juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem peredaran darah, seperti peningkatan kekentalan darah, hemokonsentrasi, serta coagulopathy. Selain itu eclampsia juga dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat, seperti perdarahan cerebral serta cerebral edema.

Karena eclampsia dicirikan oleh adanya kejang pada kehamilan atau periode post-partum, maka setiap kejang yang terjadi pada periode tersebut harus diinvestigasi secara menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi tersebut merupakan eclampsia atau kondisi lainnya, seperti meningitis atau hipoglikemia. Oleh karena itu, dokter biasanya akan merekomendasikan pemeriksaan pencitraan –seperti CT scan atau MRI-, lumbar puncture, kadar elektrolit, gula darah, serta screening toxicology.

Eclampsia merupakan kondisi yang gawat darurat dan mengancam jiwa. Oleh karena itu, penanganan dengan segera sangat dibutuhkan untuk menurunkan kemungkinan mortalitas dan morbiditas yang ada. Penanganan pertama dari eclampsia meliputi pemberian oksigen, penstabilan tanda vital, terapi anti-konvulsan, serta monitoring yang ketat. Setelah periode kejang berakhir, direkomendasikan untuk memberikan cairan via IV dan melakukan monitoring output urine untuk memantau fungsi dari ginjal. Setelah kondisi penderita stabil, dokter umumnya akan merekomendasikan penggunaan anti-hipertensi dan anti-konvulsan, jika diperlukan.

Komplikasi jangka panjang dari pre-eclampsia juga tidak boleh diabaikan. Dokter harus melakukan pemantauan dengan ketat untuk menghindari komplikasi seperti gangguan sistem saraf pusat serta berbagai gagal fungsi organ yang permanen. Wanita dengan eclampsia juga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena CAD dan stroke. Oleh karena itu, walaupun periode eclampsia telah lama berlalu, penderita tetap harus melakukan kontrol rutin atau pengobatan dalam pengawasan dokter.

 

 

 

***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id