15 October 2018 7292

Imunisasi Rotavirus

Bu, anaknya mau diimunisasi rotavirus juga?”
 
Begitu pertanyaan dokter spesialis anak dari anak saya bulan lalu. Saya paham, kalau rotavirus merupakan salah satu virus penyebab infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan diare. Lalu saya jadi berpikir, apakah diare sebegitu berbahayanya sehingga anak-anak harus mendapatkan vaksin rotavirus?
 
Imunisasi rotavirus bertujuan untuk mencegah infeksi rotavirus. Rotavirus adalah salah satu virus yang paling sering menyebabkan muntah dan diare pada bayi dan anak kecil. Muntah dan diare karena rotavirus bisa berat sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. Sayangnya, transmisi rotavirus ini begitu mudah, bahkan hanya dengan kontak fisik. Sehingga penularan diare yang disebabkan oleh rotavirus pada anak-anak juga dapat terjadi dengan mudahnya.
 
Penerapan prinsip sanitasi yang baik tentunya belum dapat diterapkan dengan baik kepada anak-anak. Oleh karena itu, imunisasi rotavirus sangat direkomendasikan untuk dapat mencegah penularan rotavirus pada anak. Vaksin ini dapat mencegah 74% – 87% kasus infeksi rotavirus. Sehingga diharapkan anak-anak terhindar dari diare berat yang menyebabkan dehidrasi.
 
Mengingat masih tingginya angka kejadian diare di Indonesia yaitu sekitar 5,4 juta kasus menurut survei Riskesdas tahun 2015, dengan sebagian besar kelompok yang rentan terkena adalah bayi dan anak-anak, maka imunisasi rotavirus dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah penyakit gastroenteritis. Tentunya selain dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang baik. Imunisasi dengan vaksin rotavirus juga termasuk salah satu jenis imunisasi yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
 
Saat ini, di Indonesia terdapat dua jenis vaksin rotavirus, yaitu Rotarix (RV1) dan Rotateq (RV5). Jika anak diimunisasi menggunakan Rotarix, maka imunisasi rotavirus dilakukan sebanyak dua kali. Dosis pertama diberikan pada saat anak berusia dua bulan, dan dosis kedua diberikan pada saat anak berusia empat bulan.
 
Jika anak diimunisasi menggunakan Rotateq, maka imunisasi rotavirus dilakukan sebanyak tiga kali. Dosis pertama diberikan pada saat anak berusia dua bulan, dosis kedua diberikan pada saat anak berusia empat bulan, dan dosis ketiga diberikan pada saat anak berusia enam bulan.
 
Batas maksimal usia bayi untuk mendapatkan imunisasi rotavirus dosis pertama adalah 15 minggu. Oleh karena itu, jika anak telah berusia lebih dari 15 minggu dan belum pernah mendapatkan imunisasi rotavirus, maka anak tersebut tidak perlu diimunisasi rotavirus.
 
Tidak seperti kebanyakan imunisasi lainnya, imunisasi rotavirus diberikan secara peroral, yaitu diteteskan ke mulut anak. Efek samping jarang terjadi pada anak setelah imunisasi rotavirus. Tetapi, jikapun ada, efek samping yang timbul tidak bersifat berat, kecuali pada anak yang alergi terhadap komponen dari vaksin rotavirus.
 
Seperti imunisasi lainnya, imunisasi rotavirus ini tidak direkomendasikan untuk anak yang sedang menderita penyakit sedang atau berat. Kalau hanya batuk pilek ringan? Tancap aja, gan! Selain itu, imunisasi rotavirus juga tidak direkomendasikan untuk anak dengan gangguan kekebalan tubuh, gangguan pencernaan kronik, atau spina bifida.
 
Nah, bagaimana, yang sudah jadi orang tua apa berminat memberikan imunisasi rotavirus untuk anak. Sekedar informasi tambahan, karena dokter spesialis anak saya mengetahui bahwa saya seorang Muslim, beliau menginformasikan kalau dalam proses pembuatannya, vaksin rotavirus ini bersinggungan dengan enzim babi. Walaupun setelah itu, vaksin rotavirus ini melalui berbagai proses lagi sehingga produk akhirnya tidak mengandung babi.
 
Ohya, vaksin rotavirus ini belum masuk ke jadwal imunisasi wajib dari IDAI ya. Sehingga imunisasi rotavirus ini belum dijamin oleh sebagian besar (atau malah semua?) asuransi di Indonesia. Tapi jangan khawatir, harganya tidak mahal kok.
 
 
Sumber Gambar : IDAI
 
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id