01 July 2019 2871
Accounting & Finance

Inverted Yield Curve, Akankah Kita Memasuki Resesi Ekonomi?

Sumber Gambar : Federal Reserve Bank of St. Louise
 
           
         Isu perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah menjadi perhatian seluruh dunia sejak setahun yang lalu. Akibat dari perang dagang ini salah satunya adalah mengubah supply chain dimana Tiongkok menjadi salah satu mata rantai dalam perdagangan dunia. Hal ini mengakibatkan negara lain yang menjadi partner bisnis Tiongkok turut mengalami dampaknya.
 
            Rangkaian peristiwa ini tercermin pada perilaku investor dalam memilih asset yang dianggap lebih aman dari pilihan asset yang lain. Pada situasi geopolitik dan ekonomi yang terjadi belakangan ini, terlihat bahwa investor, dalam hal ini di Amerika Serikat, lebih memilih surat hutang pemerintah jangka panjang. Grafik di atas menunjukkan bahwa spread yang negative berarti tingkat imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang, dalam hal ini 10 tahun, lebih kecil daripada yield 3-Month US Treasury. Dengan kata lain, investor berasumsi dalam jangka pendek ekonomi akan mengalami gejolak.
 
            Spread yang negatif secara historis menunjukkan bahwa ekonomi sedang menuju ke arah resesi. Terlihat pada awal akhir ‘80an spread masuk dalam zona negative dan pada saat itu terjadi oil price shock yang berdampak pada economy slow down  di beberapa negara di dunia. Tidak hanya itu, dot.com bubble pada awal tahun 2000 juga ditandai dengan adanya negative spread. Resesi terakhir yang melanda Amerika Serikat yakni sub-prime mortgage pada tahun 2007-2008, juga ditandai dengan adanya inverted yield curve.
 
            Inverted yield curve telah terjadi sejak bulan maret lalu. Namun demikian, signal ini tidak langsung berdampak pada ekonomi secara instan. Apabila sejarah berulang kembali dan signal ini benar, hal ini berarti dalam beberapa waktu ke depan, dalam hitungan bulan atau tahun, ekonomi di Amerika akan memasuki perlambatan ekonomi. Jika itu terjadi, maka negara-negara berkembang seperti Indonesia juga akan terkena dampaknya mengingat AS adalah salah satu rekan bisnis terbesar Indonesia.
 
***

Penulis

Muhamad Yusron Wahyudi, S.E., M.Sc.

Email: yusron@indonesiare.co.id