09 July 2020 3308
Accounting & Finance

Kebijakan Ekonomi di Beberapa Negara Asia terkait COVID-19

Hai sobat reas, pada artikel sebelumnya kita sudah pernah membahas apa itu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Nah, sehubungan dengan adanya pandemi COVID19 tentunya banyak negara terdampak akan adanya pandemic tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini tentu sangat berpengaruh kepada perekonomian negara tersebut karena untuk terus tumbuh maka suatu negara harus tetap menjalankan kegiatan perekonomiannya.
Akan tetapi, pandemi covid19 memperlambat pergerakan roda ekonomi tersebut karena adanya keharusan dari pihak berwenang untuk membatasi aktivitas masyarakat seperti lockdown, physical/social distancing dan juga interaksi antar negara. International Monetary Fund (IMF) pada World Economic Outlook Update June 2020 memprediksi penurunan pertumbuhan negara di Dunia pada tahun 2020. Terlihat pada grafik di bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi negara di asia tenggara (ASEAN-5 & Vietnam) tahun 2020 dan 2021. Hanya Vietnam dari negara tersebut yang diprediksi mampu mencatat pertumbuhan positif di tahun 2020.
 
Sumber data : International Monetary Fund ‘World Economic Outlook June 2020’
 
Tidak hanya di Indonesia, tentu saja hal ini membuat negara tetangga di ASEAN juga harus berperan aktif dalam memantau dan membuat kebijakan agar roda perekonomian dapat terus berjalan sehingga target yang telah ditetapkan oleh masing – masing negara dapat tercapai baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Oleh sebab itu, apa saja kebijakan yang telah diambil, yuk kita lihat..
 
1.      Indonesia
 
Pemerintah Indonesia sudah melakukan beberapa kebijakan fiskal dalam merespon dampak pandemic COVID19. Per 1 Juli 2020 berdasarkan data dari IMF, tidak kurang dari Rp 677 triliun pemerintah berinisiasi untuk menjalankan program pemulihan ekonomi. Beberapa diantaranya adalah bantuan pada sector kesehatan terutama dalam melakukan tes kesehatan terkait covid19, penyediaan bantuan tunai kepada masyarakat berpendapatan rendah yang terkena dampak atas pandemic, dana subsidi, hingga relaksasi pajak.
 
Di sisi moneter, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate hingga menjadi 4.25% pada bulan Juni 2020, merendahkan rasio giro wajib minimum, memperpanjang durasi repo & reverse repo hingga dua belas bulan, serta melakukan atau memfasilitasi bantuan likuiditas ke bank komersial. Sejalan dengan hal tersebut, Bank Indonesia juga melakukan pembelian obligasi negara pada pasar primer. Hal tersebut diharapkan mampu meredam volatilitas di market dan mestabilkan kondisi ekonomi di Indonesia. Jika kita melihat grafik di bawah, terlihat bahwa sejak awal april 2020 indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali naik dari titik terendahnya sepanjang tahun 2020 (YTD). Meskipun demikian, performa IHSG masih berada pada teritori negatif sejak awal tahun.
 
Sumber gambar : yahoo finance.
 

2.      Malaysia 

Hingga 30 Juni 2020 pemerintah Malaysia telah mengeluarkan paket stimulus fiscal tidak kurang dari 4% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Malaysia. Paket stimulus ini diberikan secara bertahap untuk pemulihan ekonomi atas dampak covid19. Pada tahap pertama belanja ini digunakan untuk belanja kesehatan, pengurangan pajak dan biaya perlindungan social, pemberian uang tunai dan pembangunan infrastruktur. Pada tahap – tahap berikutnya stimulus ini tetap digunakan untuk belanja kesehatan, dilanjutkan dengan program diantaranya subsidi upah, penjaminan pinjaman modal kerja, dan dukungan terhadap bisnis digital.
 
Bank Negara Malaysia (BNM) sejak 3 maret hingga 30 Juni 2020 telah memangkas suku bunga overnight policy rate (OPR) hingga 75 basis points menjadi 2.00%. Selain itu, cadangan statutory reserve requirement (SRR) juga diturunkan menjadi 2% per 20 Maret. BNM juga mengumungkan keringanan untuk pemegang polis dan peserta takaful serta bantuan pembiayaan bisnis pada bank privat dan public.
 
Dari sisi pasar modal, Securities Commission Malaysia (SCM) memberlakukan pemberhantian transaksi short selling, memperlonggar kebijakan untuk perusahaan terbuk (public companies), serta meningkatka perlindungan bagi perusahaan yang sedang bermasalah dari likuidasi. Indeks
 
Sumber gambar : yahoo finance.
3.      Philippines
 
Hingga tangal 17 juni 2020, Filipina telah mengeluarkan PHP 595.6 miliar paket stimulus fiscal atau setara dengan 3.1% dari PDB. Dari dana ini, sebanyak hampir 40% digunakan untuk memberikan dana tunai kepada 18 juta keluarga miskin dimana selama dua bulan keluarga ini mendapat dana tunai sebesar 5000-8000 peso atau sekitar Rp 1.4 juta – Rp 2.3 juta. Selain dana tunai, pemerintah Filipina juga membelanjakan pada sector kesehatan, bantuan social, serta dukungan/pelonggaran kebijakan pada sector kredit terutama pada kredit UMKM di Bank komersial.
 
Selain itu, Bank Sentral Filipina Banko Sentral ng Pilipinas (BSP) juga memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 bps dan menurunkan rasio giro wajib minimum pada bank. TIdak hanya itu, kebijakan lain diantaranya adalah membeli obligasi pemerintah, memberikan kelonggaran pada aturan kepatuhan perbankan, serta melakukan relaksasi sementara pada perhitungan risiko pinjaman UMKM di buku bank – bank komersial;
 
Sumber gambar : Bloomberg
 
4.      Singapore
 
Per tanggal 30 Juni 2020, Singapura telah mengumumkan lima paket stimulus fiscal dalam rangka penanganan Covid19. Paket stimulus yang disiapkan pemerintah singapura mencapai 19.7% dari PDB Singapura atau sekitar Rp 958 triliun. Sekitar Rp 8 triliun dianggarkan untuk menekan penyebaran virus. Pemberian dana tunai juga dilakukan kepada keluarga masyarakat singapura terutama mereka yang berpenghasilan rendah dan tidak bekerja. Selain itu, pemerintah singapura membantu dalam hal kewajiban pembayaran seperti cicilan pinjaman dan asuransi. Tidak hanya itu, pemerintah juga menganggarkan dana untuk riset dan pengembangan, pengadaan alat kesehatan dan suplai makanan.
 
Monetary Authority of Singapore (MAS) mengumumkan fasilitas swap dengan US FED sebesar SGD 60 Miliar untuk menjaga likuiditas di perbankan singapura. MAS juga akan menyesuaikan kebijakan yang sudah ada agar           dapat mendukung lembaga keuangan. Kebijakan lain yang menarik adalah MAS memberikan stimulus kepada sector keuangan dan FinTech dalam meningkatkan kapabilitas mereka seperti mendukung biaya pegawai dan pelatihan serta memperkuat ketahanan digital dan operasional.
 
Sumber gambar : yahoo finance.
 
5.      Thailand
 
Sekitar THB 1.5 triliun atau 9.6% dari GDP Thailand telah disetujui oleh pemerintah Thailand dalam penanganan Covid19. Paket stimulus ini akan disalurkan untuk beberapa program seperti belanja kesehatan, bantuan dana langsung kepada patani, buruh, dan pengusaha yang terdampak COVID19, pinjaman lunak dan pengurangan pajak, serta penurunan biaya listrik dan air.
 
Suku bunga acuan juga telah dipangkas menjadi 0.5 % selama 2020. Bantuan pada pinjaman kredit untuk UMKM yang tidak bermasalah juga dilakukan dengan cara membayarkan bunga selama enam bulan dan menjamin hingga 70% pinjaman ini. Selain itu dari pasar modal, Bank of Thailand melakukan kebijakan membeli obligasi pemerintah dalam rangka menjaga likuiditas pada pasar obligasi.
 
Sumber gambar : 
 
6.      Vietnam
 
Sampai pada tanggal 18 Juni 2020, Vietnam melaporkan tidak ada kasus kematian terkait COVID19. Pelonggaran lockdown dan social distancing sudah diberlakukan, bahkan aktivitas masyarakat sudah berjalan menuju normal. Namun demikian, pemerintah Vietnam tetap melarang perjalanan internasional.
 
Kebijakan fiscal pemerintah Vietnam beberapa diantaranya berupa pengurangan pajak pada mobil yang diproduksi di dalam negeri, menurunkan biaya sewa tanah, serta upaya untuk menunda kenaikan gaji PNS. Selain itu, pemerintah juga memberikan dana tunai bagi masyarakat yang terkena dampak covid19.
 
Selain memangkas suku bunga acuan, State Bank of Vietnam (SBV) mengeluarkan pedoman untuk bank komersial dalam rangka penjadwalan ulang kredit. Memberikan pinjaman tanpa bunga bagi perusahaan yang bisnisnya berhenti karena covid dalam upaya membayar gaji pegawainya.
 
Di sisi pasar uang, pemerintah juga akan berupaya untuk intervensi pasar dalam rangka menekan volatilitas nilai tukar.
 
Sumber gambar : Bloomberg.
 
Reference:
www.imf.org
BloombergTM
https://www.batamfm.com/artikel/nasional

Penulis

Muhamad Yusron Wahyudi, S.E., M.Sc.

Email: yusron@indonesiare.co.id