21 May 2019 1043

Mengenal Cacar Monyet

Beberapa minggu ini, dunia dihebohkan dengan berita ditemukannya kasus monkeypox alias cacar monyet yang diderita seorang warga negara Nigeria yang sedang berkunjung ke Singapura. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pria Nigeria tersebut positif mengidap cacar monyet dan saat ini sedang dalam perawatan di National Center for Infectious Disease (NCID). Kementrian kesehatan Singapura saat ini sedang melakukan investigasi lebih lanjut kepada orang-orang yang telibat kontak dengan pria Nigeria tersebut untuk memastikan apakan orang-orang tersebut juga mengidap cacar monyet.
 
Sebenarnya, apa sih, penyakit cacar monyet ini?
 
Sumber Gambar : palapanews.com
 
Monkeypox alias cacar monyet merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus monkeypox (MPXV). Cacar monyet pertama kali ditemukan pada tahun 1958, yaitu ketika sekelompok monyet yang dipelihara dengan tujuan penelitian mengalami penyakit dengan gejala seperti penyakit pox –penyakit dengan ruam dan bintil pada kulit-. Karena penyakit itu pertama kali ditemukan pada monyet, jadilah penyakit itu dikenal sebagai cacar monyet.
 
Cacar monyet kemudian ditemukan pertama kali pada manusia di Kongo pada tahun 1971, di mana seorang anak berusia 9 tahun terkena penyakit pox padahal penyakit smallpox (cacar air) telah dieradikasi dari Kongo sejak tahun 1968. Sejak saat itu, kasus cacar monyet dilaporkan ditemukan di berbagai negara di Benua Afrika. Penyakit cacar monyet pertama kali ditemukan di luar Afrika pada tahun 2003 di Amerika. Diduga, pasien terinfeksi cacar monyet karena gigitan anjingnya yang terinfeksi cacar monyet melalui tikus. Pada saat itu, memang ada impor tikus dari Afrika ke Amerika.
 
Tanda dan gejala penyakit cacar monyet pada manusia, mirip dengan tanda dan gejala penyakit cacar air, hanya sifatnya cenderung lebih ringan. Penderita cacar monyet juga mengalami demam, meriang, nyeri kepala, nyeri otot, nyeri punggung, pembengkakan kelenjar limfa, dan kelelahan pada awal penyakit. Tanda dan gejala tersebut umumnya muncul 14 – 21 hari sejak terjadi infeksi virus. Tiga hari setelah demam, ruam mulai muncul pada wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam tersebut kemudian berubah menjadi makula, papula, vesikel, pustula, dan keropeng sebelum akhirnya hilang. Penyakit cacar monyet biasanya berlangsung selama 2 – 4 minggu, dihitung sejak hari pertama terjadi demam hingga keropeng di kulit menghilang.
 
Sumber Gambar : newsskill.com
 
Berdasarkan tanda dan gejalanya, serta dengan mempertimbangkan tempat tinggal dan riwayat perjalanan pasien, diagnosis penyakit cacar monyet memang relatif mudah untuk ditegakkan. Namun, karena gejala-gejalanya yang serupa dengan penyakit pox lainnya, diagnosis pasti dari penyakit cacar monyet masih harus dibuktikan dengan pemeriksaan darah yang bertujuan untuk mengidentifikasi MPXV. Walaupun demikian, untunglah pengobatan penyakit cacar monyet sama dengan pengobatan penyakit cacar dan penyakit infeksi virus pada umumnya, yaitu istirahat total, memenuhi asupan cairan, dan penggunaan obat analgesic atau antipiretik jika diperlukan.
 
Walaupun disebut sebagai cacar monyet, ternyata carrier utama penyakit cacar monyet bukanlah monyet, melainkan tikus atau tupai. Ingat kan, sebutan cacar monyet diberikan ‘hanya’ karena cacar tersebut pertama kali ditemukan pada monyet. Transmisi utama MPXV adalah melalui kontak dengan hewan, manusia, atau benda yang telah terkontaminasi virus. Virus akan masuk ke tubuh melalui jaringan tubuh yang terbuka atau terluka, saluran pernapasan, atau membran mukosa (seperti mata, hidung, dan mulut).
 
Sumber Gambar : mastermedia.co.id
 
Manusia biasanya terinfeksi virus dari hewan melalui gigitan, cakaran, atau jilatan. Transmisi antara manusia biasanya terjadi melalui droplet pernapasan yang terjadi melalui kontak langsung, cairan tubuh, atau kontak dengan benda-benda yang telah terkontaminasi virus. Yang dapat sedikit menenangkan adalah penularan antara manusia ke manusia hanya dapat terjadi jika kita berkontak secara intens dengan penderita, misalnya tinggal serumah. Jadi, jika hanya bertemu selewatan saja, kemungkinan tertular masih sangat kecil.
 
Sebagaimana penyakit infeksi lain, kita dapat melakukan pencegahan agar tidak terinfeksi virus cacar monyet ini. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah tertular cacar monyet:
 
  • Hindari kontak dengan manusia atau hewan yang terinfeksi cacar monyet, atau yang tinggal atau pernah berkunjung ke daerah di mana terdapat kasus cacar monyet
  • Hindari kontak dengan benda-benda yang pernah disentuh manusia atau hewan yang terinfeksi cacar monyet
  • Selalu menjaga kebersihan, seperti selalu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
 
Karena cacar monyet ini sangat infeksius, maka pasien yang terjangkit atau terduga terjangkit cacar monyet harus dirawat dalam ruangan isolasi khusus. Pasien yang dirawat dalam ruangan isolasi tidak boleh menerima kunjungan selain dari personel medis. Personel medis yang akan masuk ke ruangan isolasi juga harus menggunakan peralatan proteksi diri untuk mencegah terjadinya penularan.
 
Berdasarkan keterangan dari Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementrian kesehatan Indonesia, saat ini di Indonesia memang belum dilaporkan adanya penyakit cacar monyet. Namun, untuk mencegah terjadinya penularan, Kemenkes menghimbau agar orang-orang yang baru kembali dari wilayah yang terjangkit cacar monyet - dalam hal ini, Singapura dan Afrika - untuk segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala penyakit seperti yang disebutkan di atas.
 
Nah, jangan terlalu panik lagi ya, dengan berita wabah cacar monyet! 
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id