25 January 2022 5097
Reasuransi Jiwa

Pentingnya Warna Urine Sebagai Indikator Kesehatan

Tubuh kita terdiri dari serangkaian sistem yang sangat pintar. Apabila terjadi gangguan pada salah satu sistem tersebut, tubuh kita sering kali menunjukkan gejala atau keluhan, yang diharapkan menjadi ‘peringatan’ agar kita lebih memperhatikan kondisi kesehatan kita. Dari gejala dan keluhan tersebut, kita dapat mencari tahu lebih lanjut sistem tubuh manakah yang sebenarnya saat ini tengah mengalami gangguan.
 

gf

Sumber foto: www.freepik.com
 
Urine alias air seni merupakan salah satu cairan yang diproduksi dan dikeluarkan oleh tubuh kita. Urine merupakan salah satu limbah tubuh, yang berfungsi sebagai sarana pembuangan ‘limbah produksi’ serta toxin dari tubuh kita. Oleh karena itu, karakteristik urine sering kali dijadikan sebagai salah satu indikator kesehatan tubuh kita.
 
Kita dapat memantau karakteristik urine kita, baik secara makroskopis maupun mikroskopis. Pemantauan urine secara makroskopis dapat dilakukan oleh orang awam dengan memperhatikan warna, konsistensi, aroma, serta kekentalannya. Sementara itu, pemantauan urine secara mikroskopis harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan memerlukan alat khusus seperti mikroskop. Hasil dari pemantauan mikroskopis tersebut nantinya dapat menunjukkan apakah dalam urine tersebut terdapat sel darah merah, sel darah putih, bakteri, ataupun komponen abnormal lainnya.
 
Warna urine merupakan indikator kesehatan urine yang paling mudah dan bermanfaat untuk diamati. Pasalnya, warna urine cenderung sangat mudah untuk diamati, bahkan bagi orang awam, karena pengamatan warna urine tidak memerlukan bantuan alat apapun. Selain itu, informasi terkait warna urine yang abnormal akan sangat bermanfaat untuk ‘memperkirakan’ gangguan kesehatan apa yang tengah kita alami. Meskipun demikian, sebelum kita dapat menentukan abnormalitas warna dari urine, tentunya kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana karakteristik urine yang normal. Baru dari situ, kita dapat menentukan kapan kita dapat mengatakan suatu urine memiliki karakteristik yang abnormal.
 

fr

Sumber foto: www.freepik.com
 
Urine yang normal seharusnya memiliki konsistensi serta warna yang jernih. Warna urine yang diharapkan pada orang normal adalah warna kuning pucat/bening. Meskipun demikian, pada orang sehat sering kali ditemui warna urine yang lebih tua/pekat, yang sering kali menandakan bahwa orang tersebut mengalami dehidrasi. Semakin berat dehidrasi orang tersebut, semakin pekat juga warna kuning dari urine yang dihasilkannya. Selain dari warna urine yang lebih pekat, orang yang mengalami dehidrasi juga dapat mengalami gejala lain seperti pusing, gangguan fokus, serta mudah lelah. Apabila orang sehat tersebut memenuhi kebutuhan cairan tubuhnya, maka, urine orang sehat tersebut akan kembali berwarna kuning pucat/bening dan kondisi umum orang tersebut juga akan berangsur membaik.
 
Urine seseorang dapat berwarna putih keruh, dan urine ini harus dibedakan dari urine kuning pucat/bening yang sehat. Urine putih keruh ini umumnya memiliki konsistensi seperti susu dan memiliki aroma yang cukup menyengat. Urine dengan karakteristik seperti ini dikenal sebagai pyuria dan kondisi ini bukanlah hal yang normal. Urine putih keruh ini umumnya telah tercampur dengan nanah atau kumpulan sel darah putih, yang dapat mengindikasikan bahwa orang tersebut tengah penderita infeksi bakteri, jamur, atau virus.
 
Urine seseorang juga dapat berwarna kuning tua kecokelatan. Warna urine ini umumnya dapat dialami oleh penderita penyakit liver (seperti hepatitis dan sirosis) serta penyakit ginjal dan saluran kemih. Selain itu, orang yang mengkonsumsi beberapa jenis obat seperti antibiotik (seperti Nitrofurantoin), antiparasit (seperti Metronidazole), serta obat pencahar yang mengandung cascara atau senna juga cenderung dapat mengeluarkan urine berwarna kuning tua kecokelatan.
 
Urine seseorang juga dapat berwarna orange. Warna urine ini umumnya dapat dialami oleh penderita penyakit liver dan penyakit empedu. Probabilitas penyakit liver dan penyakit empedu ini dapat meningkat apabila selain urine orange, orang tersebut juga menghasilkan feses yang berwarna pucat atau putih. Selain dari adanya penyakit, urine orange juga dapat dihasilkan oleh orang yang sedang mengkonsumsi obat Tuberculosis (Rifampin dan Isoniazid), obat anti-inflamasi (seperti Sulfasalazine), vitamin B2 (Riboflavin), atau sedang menjalani kemoterapi.
 

sd

Sumber foto: www.freepik.com
 
Urine seseorang juga dapat berwarna merah muda atau bahkan merah tua kehitaman. Urine berwarna merah muda dapat disebabkan oleh tercampurnya kristal endapan asam urat yang umum dialami oleh penderita asam urat (hyperuricemia). Sementara, urine berwarna merah tua atau merah kehitaman dapat ditemui pada penderita Tuberculosis yang tengah mengkonsumsi obat Rifampin, atau pada penderita gangguan psikiatri yang sedang mengkonsumsi obat Chlorpromazine. Selain dari konsumsi obat, urine berwarna kemerahan juga dapat ditemui pada penderita infeksi saluran kemih, batu saluran kemih, tumor saluran kemih, trauma yang mengenai saluran kemih, gangguan prostat, hemoglobinuria, myoglobinuria, porphyria, atau kelainan darah seperti anemia hemolitik.
 
Meskipun merah bukanlah warna urine yang normal, tidak jarang orang yang sehat pun dapat menghasilkan urine berwarna merah setelah mengkonsumsi makanan tertentu seperti buah naga, buah bit, atau buah blackberry. Selain itu, temuan urine kemerahan pada wanita juga harus ditindaklanjuti melalui anamnesis riwayat menstruasinya. Hal tersebut dikarenakan wanita yang baru akan memulai hingga baru selesai masa menstruasinya umumnya akan mengeluarkan urine berwarna kemerahan, yang murni disebabkan oleh tercampurnya urine dengan darah haid.
 
Urine seseorang juga dapat berwarna hijau atau biru, dan umumnya warna ini merupakan warna urine yang cukup mengejutkan. Warna hijau atau biru pada urine dapat mengindikasikan bahwa orang tersebut mengkonsumsi obat Amitriptilin (anti-depressant), obat Propofol (sedatik), keracunan blue-methyl, atau sehabis mengkonsumsi makanan dengan zat pewarna hijau atau biru dalam jumlah yang sangat banyak. Selain hijau dan biru, warna urine yang juga cukup mengejutkan adalah ungu. Warna ungu pada urine mengindikasikan bahwa urine tersebut mengandung bakteri-bakteri penghasil fosfatase seperti E. coli, Proteus sp., Klebsiella sp., serta Citrobacter sp.
 
Nah, ternyata, warna urine itu bisa bermacam-macam, ya. Mulai sekarang, yuk kita lebih memperhatikan kesehatan saluran kemih dan kesehatan tubuh kita secara umum dengan turut memperhatikan warna urine kita. Pengamatan terhadap urine merupakan salah satu pemeriksaan yang cuma-cuma dan sangat mudah lho, bahkan untuk dilakukan oleh orang awam. Jangan lupa juga untuk mengkonsumsi air dalam jumlah yang cukup, yaa!
 
Stay safe and healthy, semuanya!
 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id