20 January 2020 801

Vegan vs Vegetarian

Kita hidup di zaman di mana banyak orang telah menyadari pentingnya menganut gaya hidup sehat untuk untuk memelihara kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas kehidupan mereka. Hal tersebut dapat kita lihat dari berbagai jenis diet yang mulai marak dianut oleh masyarakat sejak beberapa tahun terakhir. Sebut saja diet mayo, diet keto, diet vegetarian, dan diet vegan. Lhoo, memangnya diet vegetarian dan diet vegan itu berbeda yaa?

Ternyata jawabannya adalaaaaah… BERBEDA!

Mungkin banyak orang yang mengira kalau kata vegan merupakan kependekan dari kata vegetarian. Sayangnya, itu adalah persepsi yang salah. Vegetarian dan vegan adalah dua hal yang sangat berbeda. Mau tau apa bedanya? Baca lebih lanjut yaa artikel ini! 

Mengenal Vegetarian

Sumber foto: https://www.vegsoc.org/info-hub/definition/

Vegetarian society mendefinisikan vegetarian sebagai gaya hidup yang dijalani oleh seseorang yang tidak mengkonsumsi protein hewani seperti daging ayam, daging sapi, dan produk laut (ikan, udang, cumi-cumi, dll). Protein yang dikonsumsi oleh vegetarian adalah protein nabati seperti kacang-kacangan, biji-bijian, sayuran, buah, serta jamur. Namun yang perlu digarisbawahi adalah vegetarian terdiri dari beberapa tipe dan tidak semua tipe vegetarian tidak mengkonsumsi protein hewani sama sekali. Ada tipe vegetarian yang masih mengkonsumsi produk turunan protein hewani seperti susu, telur, dan keju.

Berikut adalah tipe-tipe dari vegetarian:

  • Lacto ovo vegetarian

Merupakan tipe vegetarian yang menghindari konsumsi semua daging hewan, namun masih mengkonsumsi produk turunan protein hewani seperti susu, telur, dan keju.

  • Lacto vegetarian

Merupakan tipe vegetarian yang menghindari konsumsi semua daging hewan dan telur, namun masih mengkonsumsi produk turunan dari susu seperti susu, keju, dan yoghurt.

  • Ovo vegetarian

Merupakan tipe vegetarian yang menghindari konsumsi semua daging hewan dan produk turunan susu, namun masih mengkonsumsi telur.

  • Demi vegetarian

Merupakan tipe vegetarian yang menghindari konsumsi daging mamalia dan unggas, namun masih mengkonsumsi daging dari hewan laut, telur, dan susu (beserta produk turunannya).

  • Semi vegetarian (dikenal juga sebagai pescatarian vegetarian atau flexitarian vegetarian)

Merupakan tipe vegetarian yang masih dalam proses membatasi konsumsi protein hewani mereka, namun belum sama sekali menghindari konsumsi protein hewani tersebut.

Mengenal Vegan

Sumber foto: https://vegnews.com/2020/1/4-ways-vegans-can-boost-their-health

Lain vegetarian, lain pula vegan.

Pada dasarnya, seorang vegan menganut gaya hidup yang berusaha menghindari segala bentuk eksploitasi pada hewan, termasuk membunuh, mengolah, dan memakannya. Sehingga, berdasarkan prinsip hidup tersebut, Vegan Society mendefinisikan vegan sebagai cara hidup yang berusaha untuk menghindari semua bentuk eksploitasi dan kekejaman hewan semaksimal mungkin. Oleh karena itu, pola makan vegan tidak hanya menjauhi daging hewan, tetapi juga susu, telur, dan bahan-bahan yang berasal dari hewan. Termasuk gelatin, madu, pepsin, lak, albumin, kasein, dan beberapa bentuk vitamin D3.

Yang perlu digarisbawahi dari vegetarian dan vegan adalah vegetarian menentang pembunuhan hewan untuk dimakan, namun masih memperbolehkan dirinya untuk mengkonsumsi berbagai produk olahan hewan. Sedangkan seorang vegan memiliki kepercayaan bahwa hewan memiliki hak untuk bebas dan tidak diolah manusia untuk dijadikan makanan, pakaian, maupun bentuk eksploitasi lainnya. Bisa dikatakan, gaya hidup kaum vegan jauh lebih ketat jika dibandingkan dengan gaya hidup kaum vegetarian yang mana pada beberapa tipenya masih ‘memperbolehkan’ konsumsi protein hewani tertentu.

Sama seperti vegetarian, vegan juga dikategorikan menjadi beberapa tipe, yaitu:

  • Vegan etis

Merupakan tipe vegan dengan populasi terbanyak di dunia. Vegan etis mengedepankan etika dan rasa cinta mereka terhadap populasi hewan dan lingkungan. Vegan etis sama sekali tidak mengkonsumsi seluruh produk hewani, termasuk dengan turunannya.

  • Vegan berbasis tumbuhan

Merupakan tipe vegan yang masih mengkonsumsi produk nabati dan apapun yang tumbuh dari tanah.

  • Vegan mentah

Merupakan tipe vegan yang tidak memakan makanan apapun yang dimasak di atas suhu 115? Fahrenheit (sekitar 46? Celsius), karena mereka mempercayai bahwa makanan yang dimasak di atas suhu tersebut berpotensi kehilangan nutrisi dan kandungan berharga lainnya.

Sejarah Vegetarian dan Vegan

Sumber foto: https://www.happycow.net/blog/vegetarian-humour/

Jika kita mengira bahwa gaya hidup vegetarian dan vegan baru dibuat akhir-akhir ini saja, kita salah besar. Kenyataannya, gaya hidup tersebut sudah ada sejak tahun 700 SM. Kemunculan gaya hidup tersebut disinyalir akibat munculnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan serta adanya kepercayaan pada agama atau aliran tertentu akan pantangan mengkonsumsi daging.

Seiring berjalannya waktu, gaya hidup vegetarian dan vegan semakin populer di dunia. Bahkan sejak tahun 1977, Hari Vegetarian Sedunia mulai dirayakan setiap tanggal 1 November untuk menyebarkan semangat vegetarian ke seluruh di dunia. Hal ini karena penganut gaya hidup vegetarian menilai bahwa gaya hidup vegetarian yang mereka anut dapat membawa pengaruh positif bagi kehidupan mereka. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hartman Group juga menemukan bahwa sebesar 12% dari generasi millennial mengatakan bahwa mereka tertarik untuk menjalani gaya hidup vegetarian. 

Walaupun gaya hidup vegetarian dan vegan memiliki tujuan yang baik, ternyata gaya hidup ini cukup menarik perhatian para nutritionist dan praktisi kesehatan akan potensi kurangnya asupan nutrisi tertentu pada penganut gaya hidup vegetarian dan vegan. Karena, walaupun asupan vegetarian dan vegan kaya akan vitamin, mineral, dan serat, mereka berpotensi kekurangan nutrisi asam lemak, zat besi, kalsium, seng, vitamin B12, dan vitamin D. Hal ini terutama berlaku untuk penganut gaya hidup vegan yang sama sekali tidak mengkonsumsi protein hewani. Hal ini harus menjadi perhatian karena kekurangan nutrisi-nutrisi tersebut dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan. 

Sebuah penelitian yang pernah dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutrition menyatakan bahwa defisiensi protein hewani berpotensi menyebabkan penurunan massa otot. Jika dibandingkan dengan protein nabati, protein hewani memang lebih efektif untuk membangun otot karena asam amino yang dikandungnya. Asam amino, khususnya yang disebut leusin, dianggap sebagai kunci yang menggerakkan sintesis protein otot. Secara umum, protein hewani disinyalir memang memiliki proporsi leusin yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan protein nabati. 

Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, penganut gaya hidup vegan dan vegetarian amat direkomendasikan untuk melakukan konsultasi dengan nutritionist atau praktisi kesehatan sebelum memulai gaya hidup tersebut. Dalam melakukan gaya hidup tersebut juga kita harus menyesuaikan dengan kemampuan tubuh dan aktifitas harian, serta memperhatikan ‘sinyal-sinyal’ dari tubuh jika tubuh mengalami defisiensi nutrisi tertentu. 

Nutritionist dan praktisi kesehatan juga merekomendasikan agar para penganut gaya hidup vegan dan vegetarian mengkonsumsi sumber protein nabati yang padat nutrisi seperti protein jagung, quinoa, kacang kedelai, edamame, tahu, dan tempe. Selain itu, vegan dan vegetarian juga dapat mengkonsumsi suplemen yang mengandung zat besi, omega-3, kalsium, vitamin D dan vitamin B12.

 

 

********

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id