22 March 2022 507
Pengetahuan Umum

Ocean Conveyor Belt

Pemanasan global yang tengah kita hadapi saat ini, sejatinya merupakan siklus yang dimiliki bumi. Namun perubahan suhu drastis bukan merupakan suatu kewajaran. Jika kita ibaratkan mesin, bumi ini juga memiliki sistem radiator alami yang mengontrol suhu. Sistem ini terus bekerja ribuan tahun untuk mempertahankan suhu bumi. Lalu bagaimana efeknya jika sistem ini mengalami penurunan performa? Tentu seperti mobil yang terlalu panas, mesin dapat meledak sewaktu-waktu.

Sistem pengontrol suhu bumi adalah ocean conveyor belt. Seperti namanya conveyor belt, sistem ini tercipta dari samudera-samudera yang saling berhubungan. Prinsipnya, sistem ini merupakan pergerakkan massa air hangat dan air dingin. Pertukaran massa air tersebut menghasilkan keseimbangan suhu dari wilayah yang di laluinya. Selain itu, pergerakkan air tersebut juga membawa unsur hara yang dimanfaatkan organisme laut bertahan hidup.

Sederhananya, sistem ini merupakan pergerakkan massa air yang terjadi akibat hukum kekekalan massa. Pola yang terjadi pada sistem ini, arus permukaan bergerak menuju ke laut dalam yang selanjutnya air tersebut kembali ke permukaan. Terdapat 2 gaya yang mendominasi terjadinya siklus ini yaitu angin dan perbedaan massa jenis air laut. Angin berperan besar untuk memunculkan arus pada permukaan air sehingga terjadi pergerakkan massa air hangat di permukaan laut. Suhu dan salinitas merupakan faktor yang menyebabkan adanya perbedaan massa jenis air. Semakin dingin dan asin air, maka massa air tersebut semakin berat. Arus akibat perbedaan suhu dan salinitas ini disebut thermohaline, thermo dari suhu dan haline dari garam.

Kama1
Gambar 1. Skema pergerakkan ocean conveyor belt.
 (sumber: https://www.esa.int/ESA_Multimedia/Images/2004/03/Ocean_circulation_conveyor_belt)

 
Ocean conveyor belt berawal dari tenggelamya air permukaan di laut Utara Atlantik. Suhu di area ini sangat dingin sehingga air laut membeku menjadi es dan meninggalkan kadar garam untuk air sekitarnya. Hal ini meningkatkan massa jenis sehingga air tenggelam mengurangi massa air hangat di permukaan. Muncul arus permukaan, dimana air yang lebih hangat bergerak untuk mempertahankan kekekalan massa.

Massa jenis air yang tenggelam ke laut dalam terus bergerak ke bumi belahan selatan. Pergerakkan massa air ini melewati ekuator serta benua Amerika dan Afrika hingga ke Antartika. Air kembali tenggelam seiringan dengan perjalanan air melewati Antartika yang memiliki suhu yang dingin.
Perjalanan air mengalami percabangan, satu cabang menuju Samudera Hindia dan satu lagi menuju Samudera Pasifik. Kedua samudera tersebut memiliki suhu yang relatif lebih hangat karena letaknya disekitar ekuator. Selain itu, tingginya respirasi di daerah tersebut menurunkan salinitas air. Keadaan ini menyebabkan air naik ke permukaan sehingga suhu meningkat dan salinitas berkurang. Air hangat di Samudera Pasifik bergerak melalui perairan Indonesia tengah, dikenal dengan Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), menuju Samudera Hindia untuk kembali bergerak menuju utara laut Atlantik. Ketika massa air sudah kembali terisi, siklus tersebut kembali bekerja.

Ocean current belt bergerak sangat pelan jika dibandingkan arus angin ataupun arus pasang surut. Kecepatan siklus ini diestimasi dalam satuan cm/s berbeda dengan kecepatan arus yang biasanya dipantau dalam satuan m/s. Estimasi peneliti jika 1 m3 air memerlukan waktu hingga 1,000 tahun untuk menyelesaikan satu siklus.

Selain sangat berguna untuk menjaga suhu bumi untuk nyaman ditempati, ocean current belt juga memiliki peranan dalam transportasi unsur hara dan siklus karbon dioksida. Sistem ini menyebabkan air di laut dalam akan naik kepermukaan sehingga dimanfaatkan oleh organisme laut. Air tersebut memiliki unsur hara yang sangat tinggi yang berasal dari hasil penguraian mikroorganisme laut. Karbon dioksida yang diikat air laut permukaan dibawa ke laut dalam sehingga karbon dioksida tidak menetap diatmosfer.

Ironinya perubahan iklim berdampak pada kecepatan arus conveyor belt. Peneliti mendapatkan tanda adanya penurunan kekuatan. Hal tersebut akan memicu terjadinya cuaca ekstrem di beberapa tempat, diprediksi suhu di Eropa dan Amerika Utara akan turun 5o. Daerah tersebut akan menjadi sangat dingin sehingga manusia tidak lagi nyaman tinggal disana. Jika tanda-tanda ini tidak digubris, manusia harus mempersiapkan diri pindah ke planet lain.
 
Sumber pustaka:
https://oceanservice.noaa.gov/facts/conveyor.html
https://oceanservice.noaa.gov/education/tutorial_currents/05conveyor2.html
http://oceanmotion.org/html/impact/conveyor.htm
https://www.aljazeera.com/news/2021/11/12/concern-grows-over-atlantic-ocean-conveyor-belt-shutdown
https://www.theguardian.com/environment/2021/aug/05/climate-crisis-scientists-spot-warning-signs-of-gulf-stream-collapse

Penulis

Muammar Kamadewa Ramadhan, S.Si., AAAIK

Email: kamadewa@indonesiare.co.id