21 February 2022 944
Pengetahuan Umum

Mengenal Tropical Cyclone dan Potensi Kerusakannya

Tropical Cyclone merupakan suatu fenomena alam yang seringkali terjadi di berbagai belahan dunia. Di tahun 2021, warga dunia dikejutkan dengan terjadinya Tropical Cyclone di Amerika Serikat yang bernama Hurricane Ida. Dinilai dari besarnya kerugian finansial yang ditimbulkan, Hurricane Ida menjadi bencana alam dengan nilai kerugian yang terbesar di tahun 2021. Nilai kerugiannya melampaui banjir di Eropa Barat yang telah dibahas pada artikel sebelumnya.
 
Tropical Cyclone merupakan badai dengan pergerakan angin yang memutar/memuntir pada kecepatan yang tinggi yang berasal dari samudera di daerah tropis[1]. Hurricane merupakan salah satu contoh dari Tropical Cyclone yang memiliki kecepatan di atas 119 km/jam. Penggunaan kata Hurricane ini spesifik hanya untuk Tropical Cyclone berkecepatan terendah 119 km/jam dan terjadi di kawasan yang meliputi Samudera Atlantik, Laut Karibia, Gulf of Mexico hingga bagian timur samudera pasifik. Jika Tropical Cyclone dengan kecepatan serupa terjadi di bagian utara samudera hindia dan bagian barat samudera pasifik, maka istilah yang digunakan adalah typhoon (taifun)[2]. Dengan demikian, Tropical Cyclone merupakan istilah yang general, tanpa melihat di mana tempat kejadiannya.
 
Dari sisi intensitas/kecepatan angin, fenomena pembentukan Tropical Cyclone ini terjadi secara bertahap. Mulai dari skala kecil/kecepatan angin rendah, hingga berkembang menjadi Tropical Cyclone dengan intensitas yang besar (Hurricane dan/atau Typhoon). Dua bahan dasar dari Tropical Cyclone adalah air samudera yang hangat dan angin yang berhembus. Seperti yang telah diketahui secara umum, daerah di sekitar garis khatulistiwa adalah daerah yang bertemperatur lebih tinggi dibandingkan daerah lain di bumi. Hal ini disebabkan karena posisi garis khatulistiwa yang bisa tegak lurus dengan matahari. Fakta tersebut memungkinkan daerah khatulistiwa bisa lebih besar menyerap panas matahari. Sehingga, daerah samudera yang berada di garis khatulistiwa memiliki temperatur air yang lebih tinggi.
 
Lalu, masih berkaitan dengan perbedaan temperatur, dalam ilmu fisika diketahui bahwa angin bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah. Daerah dengan temperatur yang tinggi memiliki tekanan udara yang lebih rendah, sedangkan daerah dengan temperatur yang rendah memiliki tekanan yang lebih tinggi. Mengingat daerah khatulistiwa merupakan daerah dengan temperatur yang tinggi, maka daerah tersebut menjadi pusat arah datang angin yang berhembus dari belahan bumi utara (northern hemisphere) dan belahan bumi selatan (southern hemisphere). Namun, karena efek Coriolis yang disebabkan oleh pergerakan rotasi bumi, pergerakan angin menuju ke daerah khatulistiwa tidak terjadi dalam rute yang lurus, melainkan terdefleksi atau berbelok, seperti yang ditunjukan pada Gambar 1 di bawah ini.
 

dsf

Gambar 1. Efek Coriolis pada pergerakan arah angin
Sumber: https://www.islandphysics.com/coriolis-effect.html
 
Di samudera yang berada di garis khatulistiwa, air yang hangat (temperatur sekitar 27oC) akan menghangatkan udara di atasnya. Mengingat udara tersebut berada di atas air samudera, tentunya udara tersebut merupakan udara yang lembab. Seiring dengan meningkatnya temperatur, udara yang lembab dan hangat tersebut akan bergerak ke atas sebagai akibat dari perbedaan massa jenis dengan udara diatasnya yang bertemperatur lebih rendah. Udara tersebut akan terus bergerak ke atas hingga akhirnya pada titik tertentu, kandungan uap air di dalamnya akan terkondensasi. Proses kondensasi menyebabkan terbentuknya awan kumolonimbus yang berbentuk seperti pilar.
 

fg

Gambar 2. Awan kumolonimbus yang berbentuk seperti pilar
Sumber: https://socratic.org/questions/what-type-of-cloud-is-responsible-for-thunderstorms-and-tornadoes-what-about-thi
 
Saat udara lembab dan hangat berpindah ke atas, artinya ada kekosongan pada daerah yang ditinggalkan, daerah tersebut menjadi pusat daerah yang bertekanan rendah. Akibatnya, udara yang berada disekitarnya akan bergerak dan mengisi kekosongan tersebut. Udara tersebut, seperti halnya udara yang sebelumnya, akan terhangatkan dan lembab. Udara tersebut pun kemudian akan bergerak ke atas, mengulang proses yang sebelumnya terjadi.
 
Seiring dengan angin yang bergerak ke atas secara kontinyu, pergerakan angin yang berada di sekitarnya menuju ke pusat (daerah bertekanan rendah) pun akan terus terjadi. Sebagai akibat dari arah angin yang berbelok (lihat Gambar 2), maka pergerakan angin tersebut menjadi berbentuk spiral, dengan pusat spiral berupa daerah bertekanan rendah tadi. Pusat spiral tersebut dikenal dengan istilah eye. Pergerakan, pemanasan dan proses kondensansi yang kontinyu menyebabkan awan kumolonimbus yang terbentuk pun bertumbuh semakin besar. Tahap ini dikenal dengan istilah Tropical Disturbance[4]. Ketika kecepatan angin bertambah hingga maksimum 62 km/jam, maka Tropical Cyclone dikenal dengan istilah Tropical Depression. Saat kecepatannya melewati 62 km/jam, maka Tropical Depression akan berubah nama menjadi Tropical Storm. Akhirnya, saat kecepatannya melewati 120 km/jam, fenomena metereologi tersebut secara resmi berubah menjadi Hurricane. Diameter Hurricane sangat masif, bisa melampaui 1000 km dengan tinggi mencapai 17 km.
 

fffffffffd

Gambar 3. Anatomi Hurricane
Sumber: AFP News Agency
 
Mengingat bahan baku utama Tropical Cyclone adalah air (uap air) dan aliran angin, maka saat Hurricane mulai memasuki wilayah daratan, intensitasnya akan melemah. Hal ini disebabkan karena tidak ada lagi uap air yang tersuplai ke Tropical Cyclone. Seiring berjalannya waktu, Tropical Cyclone yang masuk ke daratan tersebut akan semakin melemah hingga akhirnya menghilang atau terdisipasi. Fenomena naiknya Tropical Cyclone, lebih khususnya Hurricane ke daratan dikenal dengan istilah Landfall. Meskipun akan menghilang di daratan, Hurricane masih memiliki energi yang cukup untuk menimbul kerusakan di sisa waktunya sebelum menghilang. Dampak kerusakan tersebut dirangkum pada tabel di bawah ini.

 

Screenshot-2022-02-21-094944

Tabel 1. Dampak kerusakan Hurricane pada 5 kategori

 

Penulis

Maesha Gusti Rianta ST., M.Sc

Email: maesha@indonesiare.co.id