02 March 2017 7122

Hepatitis D

Kita semua mungkin sudah sangat mengenal Hepatitis B dan Hepatitis C ya. Tapi taukah kalian, selain Hepatitis A, B, dan C, kita punya hepatitis huruf lainnya? Untuk kali ini, yuk kita membahas tentang infeksi Hepatitis D.

Apa itu hepatitis D?

Hepatitis D – yang juga dikenal sebagai delta hepatitis- merupakan infeksi pada liver yang disebabkan oleh Hepatitis D virus (HDV). HDV merupakan salah satu tipe RNA virus yang pertama kali ditemukan pada tahun 1977.Hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang telah terinfeksi Hepatitis B virus (HBV). Hal tersebut dikarenakan sebenarnya HDV merupakan virus dengan bentuk tidak sempurna yang membutuhkan bantuan HBV untuk dapat bereplikasi di hepatocyte. Infeksi Hepatitis D pada penderita Hepatitis B disebut dengan superinfeksi.

 
   


Infeksi HDV biasanya terjadi pada orang dewasa. Namun, anak-anak juga dapat terinfeksi HDV melalui kontak dengan lesi kulit yang ada pada penderita HDV. Kasus tersebut biasanya muncul pada negara-negara berkembang.

Bagaimana cara penularan infeksi HDV?

HDV ditransmisikan secara perkutan atau melalui kontak mukosa dengan darah. Beberapa faktor risiko infeksi HDV antara lain:

  • Penggunaan obat intravena 
  • Transfuse darah 
  • Kontak seksual

Apakah gejala yang ditunjukkan oleh penderita infeksi HDV?

Sekitar 90% dari kasus infeksi HDV bersifat asymptomatic, artinya penderita tidak menunjukkan gejala spesifik yang mudah terlihat. Namun, beberapa gejala di bawah dapat muncul pada penderita infeksi HDV:

  • Jaundice 
  • Urine berwarna kegelapan 
  • Nyeri perut 
  • Mual dan muntah 
  • Memar dan perdarahan 
  • Pruritus (gatal di kulit)

Apa saja komplikasi dari infeksi HDV?

infeksi HDV dapat bersifat akut maupun kronis. Sekitar 80 – 90% kasus HDV akan menjadi infeksi kronis. Infeksi HDV kronis dapat mengakibatkan cirrhosis liver, gagal liver fulminant, penyakit liver terminal, hepatocellular carcinoma dan berbagai komplikasi lainnya. Infeksi HDV berulang yang menyebabkan hepatitis fulminant pada penderita yang pernah melakukan transplantasi liver dapat mengakibatkan penyakit liver kronis pada liver baru penderita, sehingga penderita akan memerlukan transplantasi ulang

Bagaimana cara pengobatan infeksi HDV?

Pengobatan infeksi HDV dapat dilakukan untuk mengobati infeksi yang ada dengan antiviral seperti interferon alpha. Pengobatan interferon alpha biasanya diberikan selama 1 tahun. Pada infeksi HDV kronis yang telah menimbulkan komplikasi atau bahkan gagal liver, penderita akan dipersiapkan untuk menerima transplantasi liver.

Bagaimana prognosis penderita infeksi HDV?

Prognosis penderita infeksi HDV cukup baik pada penderita yang menerima terapi eradikasi HDV dan HBV. Prognosis juga dapat bergantung pada beberapa hal seperti:

  • Tingkat keparahan infeksi HBV
  • Konsumsi alkohol
  • Penyakit comorbid lainnya
  • Usia penderita
  • Demam

Adakah cara untuk mencegah infeksi HDV?

Cara terbaik untuk mencegah infeksi HDV tentu saja menghindari risiko yang dapat menyebabkan kita terinfeksi yaa. Selain itu, hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk penyakit Hepatitis D. Namun kita dapat mencegah terinfeksi HDV dengan vaksinasi Hepatitis B. Tentunya, karena HDV membutuhkan HBV untuk dapat berreplikasi ya. Jadi dengan mencegah HBV, kita juga dapat mencegah terjadinya HDV.

 

 

********

Penulis

Admin