02 March 2017 4897

Horror Menopause Bagi Wanita

Orang banyak yang berkata: life begins at forty…. Tapi benarkah itu? Apakah usia 40 tahun benar-benar usia yang ditunggu-tunggu di mana katanya kehidupan mulai berjalan stabil dan asik? Maybe yes, but maybe no. Terutama buat para wanita ya, di mana mulai usia 40 tahun harus bersiap akan datangnya masa menopause.

Apa sih menopause itu?

Menopause adalah berhentinya secara fisiologis siklus menstruasi yang berkaitan dengan usia perempuan. Seorang wanita yang mengalami menopause secara alamiah sama sekali tidak dapat mengetahui apakah saat menstruasi tertentu benar-benar merupakan menstruasinya yang terakhir sampai satu tahun berlalu.

Pada usia berapa sih biasanya seorang wanita mengalami menopause?

Usia menopause pada tiap wanita berbeda-beda, tapi menopause umumnya terjadi usia 50 tahun. Meski demikian, ada juga sebagian wanita yang mengalaminya sebelum berusia 40 tahun. Inilah yang disebut menopause dini atau prematur.

Menopause prematur terjadi pada sekitar satu dari 100 wanita. Gangguan ini terjadi karena ovarium berhenti menghasilkan hormon-hormon reproduksi dalam jumlah normal. Kelainan genetika atau penyakit autoimun diduga sebagai penyebab di balik masalah ini. Bagaimana proses terjadinya menopause?

Dua hingga delapan tahun sebelum menopause, kebanyakan wanita menjadi tak teratur ovulasinya. Selama tahun-tahun tersebut, folikel indung telur (kantung indung telur), yang mematangkan telur setiap bulan, akan mengalami tingkat kerusakan yang semakin cepat hingga tidak ada lagi folikel yang dihasilkan. Penelitian menunjukkan bahwa percepatan rusaknya folikel ini dimulai sekitar usia tiga puluh tujuh atau tiga puluh delapan. Inhibin, zat yang dihasilkan dalam indung telur, juga semakin berkurang sehingga mengakibatkan meningkatnya kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone).

Selain terjadi secara alami, menopause juga dapat dipicu oleh beberapa prosedur medis, misalnya operasi pengangkatan rahim atau ovarium. Metode pengobatan kanker seperti kemoterapi dan radioterapi juga dapat memicu menopause dini. Tetapi siklus menstruasi terkadang dapat kembali terjadi setelah kemoterapi dan radioterapi berakhir.

Infeksi akibat malaria, virus varisela, dan tuberkulosis juga dapat memicu terjadinya menopause lebih awal. Begitu juga dengan beberapa jenis kondisi, antara lain hipotiroidisme, sindrom Down, serta penyakit Addison.

 Apa saja sih tanda-tanda kalau menopause akan segera datang?

Tiap wanita tidak memiliki proses menopause yang sama. Proses ini umumnya ditandai dengan menstruasi yang berakhir secara bertahap. Frekuensi dan interval menstruasi akan semakin jarang sebelum akhirnya berhenti sama sekali. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian wanita yang mengalami menopause dengan siklus menstruasi yang berakhir secara tiba-tiba.

Menjelang menopause, ada beberapa gejala emosional serta fisik yang dapat dirasakan oleh seorang wanita. Gejala-gejala tersebut umumnya meliputi:

  • Perubahan pada siklus menstruasi, misalnya menstruasi yang tidak teratur, volume pendarahan yang sedikit atau berlebihan.
  • Sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes).
  • Kekeringan pada vagina yang dapat menyebabkan rasa sakit saat berhubungan seks.
  • Menurunnya gairah seks.
  • Berkeringat pada malam hari.
  • Gangguan tidur, seperti sering terbangun tiba-tiba dan insomnia, yang juga dapat menyebabkan sulit konsentrasi.
  • Emosi yang tidak stabil, seperti uring-uringan, sedih, atau depresi.
  • Kenaikan berat badan dan metabolisme yang lamban.
  • Sakit kepala.
  • Rambut yang menipis dan kulit kering.
  • Lebih rentan terhadap infeksi saluran kemih.
  • Apa saja efek jangka panjang bagi kesehatan akibat menopause?

1.       Osteoporosis

Salah satu akibat jangka panjang menopause adalah hilangnya kepadatan tulang yang berkelanjutan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kepatahan atau keretakan pergelangan pinggul dan punggung. Pria dan wanita akan mencapai puncak kepadatan tulang di usia 20-an tahun. Hilangnya kepadatan tulang yang berhubungan dengan umur dimulai sekitar usia 30-an. Oleh sebab itu, penting untuk melakukan tindakan sedini mungkin untuk menghindari terjadinya osteoporosis. 

2.     Hipertensi

Wanita di usia menopause juga berisiko mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi) yang bisa menyebabkan stroke dan serangan jantung apabila tidak diobati. Tekanan darah yang meningkat adalah salah satu faktor risiko yang paling penting terhadap penyakit jantung koroner dan stroke. 

3.      Penyakit kardiovaskular

Semua perempuan, terutama setelah menopause, perlu mewaspadai dan mengenali gejala-gejala serangan jantung karena hormon estrogen berkurang. Hormon ini bersifat melindungi dan membuat pembuluh darah koroner lebih lebar dan mengurangi risiko penyakit jantung. Namun, saat hormon estrogen menurun, risiko terkena penyakit jantung meningkat dua hingga tiga kali lipat. 

Lalu, bagaimana kita bisa tetap memelihara kesehatan saat menopause?

Menopause adalah saat kritis dalam kehidupan wanita yang mendekati usia paruh baya yang memerlukan penanganan tepat dan sesuai. Para dokter menganjurkan wanita menopause untuk mengubah gaya hidup mereka, seperti mengontrol berat badan, meningkatkan aktivitas fisik, serta menghindari stres.

Salah satu cara untuk mengatasi gejala-gejala menopause yang cukup efektif adalah terapi hormon estrogen yang bertujuan untuk menggantikan penurunan estrogen yang terjadi pada saat menopause. Meski demikian, tidak semua wanita bisa melakukan terapi sulih hormon ini, terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga menderita kanker payudara, atau merokok.

Terapi penggantian hormon merupakan langkah penanganan menopause yang paling sering digunakan karena tingkat keefektifannya. Obat-obatan dalam terapi ini tersedia dalam bentuk tablet, krim, gel, koyo, dan implan. Selain untuk mengurangi gejala menopause, terapi penggantian hormon jangka panjang juga dapat mengurangi risiko osteoporosis.

Sesuai namanya, kinerja terapi ini adalah dengan menggantikan hormon-hormon reproduksi alami yang menurun seiring proses menopause. Terapi penggantian hormon terbagi dalam dua kategori, yaitu terapi penggantian hormon estrogen dan kombinasi.

Terapi penggantian hormon estrogen hanya dianjurkan bagi wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan ovarium dan rahim karena estrogen dapat meningkatkan risiko kanker rahim. Sedangkan terapi penggantian hormon kombinasi (estrogen dan progesteron) diberikan untuk wanita yang masih memiliki rahim.

Penggunaan obat-obatan dalam terapi ini dapat dihentikan secara bertahap setelah gejala-gejala menopause berakhir. Pada umumnya, durasi gejala menopause yang dialami oleh seorang wanita adalah sekitar 2-5 tahun.

 

 

*********

Penulis

Admin