31 May 2018 5066

Melanoma

Minggu lalu, publik Indonesia dikejutkan oleh kabar mengejutkan tentang meninggalnya menantu salah satu tokoh politik di Indonesia. Mengejutkan karena, usia dari almarhumah masih terbilang sangat muda, tidak terdengar pernah menderita sakit sebelumnya, serta usia pernikahan pasangan tersebut yang masih terbilang seumur jagung. Dari beberapa informasi yang diterima, ternyata almarhumah menderita kanker kulit atau yang lazim dikenal sebagai melanoma.

Sebenarnya, apa sih melanoma itu? Apakah begitu berbahaya sehingga dapat mengancam jiwa?

Sumber Gambar : skincancer.asn.au

 

Melanoma adalah kanker kulit yang awalnya berkembang di melanocyte, yaitu sel pada jaringan kulit yang berfungsi memproduksi melanin alias pemberi warna pada kulit. Walaupun lazim dikenal sebagai kanker kulit, ternyata melanoma ini tidak hanya dapat terjadi pada jaringan kulit, lho. Karena melanocyte juga terdapat pada mata dan usus, melanoma juga dapat terjadi pada jaringan mata dan usus. Namun, case ini amat sangat jarang ditemukan.

Penyebab pasti dari melanoma sendiri belum dapat diidentifikasi. Namun, beberapa penelitian mengungkapkan kalau eksposure dari sinar ultraviolet (UV) dipercaya dapat meningkatkan risiko seseorang terkena melanoma. Eksposure berlebih dari sinar UV dipercaya dapat merusak DNA dari sel kulit sehingga menyebabkan pertumbuhan sel ke arah keganasan. Oleh karena itu, membatasi eksposure sinar UV pada kulit kita dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah terkena melanoma. Selain itu, jangan lupa ya, untuk selalu menggunakan sunblock sebelum berhadapan langsung dengan sinar matahari.

Sinar matahari merupakan sumber utama ultraviolet yang bisa memengaruhi kulit. Pada kebanyakan kasus, melanoma diduga disebabkan oleh paparan sinar matahari. Ada dua jenis utama sinar ultraviolet yang dapat menembus lapisan ozon di atmosfir bumi, yaitu ultraviolet A (UVA) dan ultraviolet B (UVB). Jika terlalu lama dan berulang kali terpapar UVA dan UVB, kulit akan mengalami kerusakan dan membuatnya lebih mudah terserang kanker kulit (termasuk melanoma).

Menurut data WHO, ada sekitar 132.000 kasus melanoma muncul setiap tahunnya di seluruh dunia. Setiap 3 kasus kanker ditemukan satu kasus kanker kulit melanoma dan diperkirakan ini akan terus meningkat karena lapisan ozon di langit yang terus menipis. Pengurangan lapisan ozon 10 persen saja dapat menyebabkan peningkatan insiden kanker kulit melanoma sebesar 4500 tambahan kasus baru.

Selain eksposur sinar UV, ada beberapa faktor risiko lain yang dipercaya dapat meningkatkan risiko seseorang terkena melanoma, di antaranya:

  • Orang dengan kulit putih, karena memiliki melanin –yang berfungsi melindungi kulit dari radiasi sinar UV- lebih sedikit dibandingkan orang dengan kulit lebih gelap
  • Riwayat ‘sunburn’, terutama yang menimbulkan luka lepuhan pada kulit
  • Memiliki banyak tahi lalat pada tubuh
  • Orang dengan gangguan sistem imun, misalnya HIV-AIDS atau SLE
  • Riwayat keluarga dengan melanoma atau keganasan lainnya

 

Tanda dan gejala melanoma sebenarnya mudah dilihat secara kasat mata, seperti adanya tahi lalat atau perubahan warna kulit. Tahi lalat yang patut dicurigai sebagai tanda dari melanoma memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • asymmetrical shape, alias tahi lalat dengan bentuk yang tidak beraturan B ? irregular border, alias batas pinggir dari tahi lalat itu tidak jelas
  • changes in color, alias adanya perubahan pada warna tahi lalat dibanding sebelumnya, atau warna yang tidak merata pada tahi lalat
  • diameter, alias tahi lalat dengan ukuran yang lumayan besar, lebih dari 6 mm
  • evolving, alias tahi lalat yang mengalami perubahan, baik dari segi ukuran, warna, bentuk, atau tahi lalat yang tiba-tiba terasa gatal atau mengeluarkan darah

Sumber Gambar : wikipedia.org

Jika dokter mencurigai adanya tanda atau gejala melanoma, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan biopsy jaringan. Dengan biopsy tersebut, tidak hanya dapat menegakkan atau menyingkirkan diagnosis melanoma. Namun, stage dari melanoma juga dapat diketahui sehingga dokter dapat menentukan seberapa jauh perkembangan melanoma, terapi yang tepat untuk pasien, serta prognosis dari pasien tersebut.

 

Berikut adalah tahapan dari melanoma:

  • Stage 0: merupakan carcinoma-in-situ, di mana sel sudah cenderung bersifat ganas, namun masih bersifat non-invasive dan belum berpenetrasi melewati epidermis
  • Stage I: sel kanker telah berpenetrasi melewati epidermis, namun ukurannya masih relative kecil dan belum menyebar ke limfonodi
  • Stage II: ukuran sel kanker sudah membesar dan biasanya telah menyebabkan ulkus atau menyebar ke limfonodi terdekat
  • Stage III: sel kanker telah menyebar ke beberapa limfonodi terdekat dan jaringan kulit telah mengalami kerusakan
  • Stage IV: sel kanker telah menyebar ke organ tubuh lainnya, seperti otak dan paru-paru

 

Sumber Gambar : melanomatreatment.net

Seperti bentuk kanker lainnya, melanoma dapat diterapi dengan beberapa jenis terapi seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi, targeted therapy, dan biological therapy. Jika melanoma telah menyebar pada jaringan limfa, dokter biasanya akan menyarankan pembedahan untuk mengangkat area yang terkena melanoma beserta limfonodi yang terkena. Dengan pembedahan tersebut, diharapkan jaringan yang terkena melanoma dapat terangkat, mencegah kekambuhan, serta mencegah penyebaran lebih lanjut.

 

 

***

Penulis

Admin