18 May 2021
11012
Reasuransi Jiwa
Fenomena Long Covid pada Penyintas
Sudahkah anda mengenal istilah Long Covid?
Long Covid, yang juga akrab dikenal sebagai Long Haul Covid atau Post-Acute-SARS-CoV-2 (PASC) merujuk kepada adanya gejala atau gangguan kesehatan yang terkait dengan COVID-19, yang muncul atau menetap selama beberapa minggu hingga bulan setelah seorang penyintas dinyatakan sembuh dari COVID-19.
Lama dari infeksi COVID-19 dapat berbeda pada setiap penderitanya. Sebagian besar penderita umumnya sembuh setelah melalui fase akut penyakit, yang mana terjadi 3 – 4 minggu setelah penderita mengalami gejala pertama atau terkonfirmasi menderita COVID-19. Namun, sebagian penderita lainnya dapat mengalami ‘masa sakit’ yang lebih lama. Berdasarkan data yang ada, 13.3% penyintas masih mengalami gejala pada 28 hari setelah gejala pertama, 4.5% penyintas masih mengalami gejala pada 8 minggu setelah gejala pertama, dan 3% penyintas masih mengalami gejala pada lebih dari 12 minggu setelah gejala pertama.
Memang tidak semua penyintas pasti mengalami fenomena Long Covid. Berdasarkan studi-studi yang ada, para ahli meyakini bahwa semakin berat gejala yang penyintas alami pada saat terinfeksi COVID-19, semakin tinggi pula kemungkinan penyintas tersebut untuk mengalami Long Covid.
Fenomena dari Long Covid ini sendiri disinyalir dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab. Faktor yang pertama adalah adanya kerusakan organ yang secara langsung disebabkan oleh infeksi virus. Faktor yang kedua adalah adanya kerusakan organ yang disebabkan oleh adanya reaksi peradangan sebagai respon tubuh terhadap infeksi virus, yang mana juga dapat menyebabkan terjadinya thrombosis microvascular. Faktor yang ketiga adalah adanya sequel alias ‘bekas luka’ pada organ tubuh, yang memang umum terjadi pada seseorang yang pernah mengalami penyakit berat atau kritis.
Mungkin selama ini banyak yang masih beranggapan kalau COVID-19 identik dengan penyakit pernafasan, sehingga kalaupun seorang penyintas mengalami Long Covid, gejala yang akan dialaminya ‘hanyalah’ gangguan pernafasan. Nah, bagaimana fakta sebenarnya? Sesak nafas, kesulitan bernafas, ataupun gangguan pernafasan lainnya memang merupakan gejala-gejala Long Covid yang paling banyak dikeluhkan oleh penderita. Hal ini disebabkan karena paru-paru dan sistem pernafasan memang merupakan salah satu dari target utama infeksi COVID-19. Tidak hanya gangguan pernafasan yang dapat dilihat secara klinis, fenomena Long Covid pada sistem pernafasan juga dapat dilihat dari adanya temuan khas COVID-19 yang menetap pada pemeriksaan paru-paru, seperti adanya fibrosis paru dan pneumonia.
Walaupun demikian, pada dasarnya reseptor ACE-2 yang akan berikatan dengan SARS-CoV-2 tidak hanya terdapat pada saluran pernafasan, melainkan, hampir seluruh organ dan sistem tubuh manusia memiliki reseptor tersebut. Hal inilah yang menyebabkan gejala COVID-19 dan fenomena Long Covid dapat terjadi pada organ dan sistem tubuh lain selain pernafasan.
Masih cukup erat dengan sistem pernafasan, sebagian dari penyintas COVID-19 juga mengeluhkan munculnya gangguan pada jantung dan sistem peredaran darah mereka. Gangguan yang dikeluhkan antara lain adalah adanya aritmia jantung, nyeri dada, dan gangguan pembekuan darah. Gangguan pada jantung dan sistem peredaran darah ini akan lebih berpotensi untuk muncul pada penyintas yang mengalami gejala berat dan kritis, atau memerlukan perawatan dengan ventilator pada saat terinfeksi COVID-19. Selain itu, para penyintas yang memang memiliki komorbid kardiovaskular juga mengeluhkan kalau penyakit mereka terasa memberat dan lebih sering kambuh setelah mereka sembuh dari COVID-19.
Gangguan kesehatan yang tak kalah banyak dikeluhkan oleh penyintas COVID-19 adalah gangguan pencernaan. Berdasarkan penelitian yang ada, memang jumlah reseptor ACE-2 pada saluran pencernaan dikatakan lebih banyak dari jumlah reseptor ACE-2 pada saluran pernafasan. Oleh karena itu, tidak hanya gangguan pencernaan umum ditemukan pada penderita dan penyintas COVID-19, keberadaan dari virus SARS-CoV-2 pun juga dikatakan dapat bertahan cukup lama pada saluran pencernaan. Berdasarkan hasil studi yang ada, dikatakan bahwa penularan SARS-CoV-2 melalui feses masih dapat terjadi hingga 28 hari setelah penderita pertama kali mengalami gejala, dan bahkan hingga 11 hari setelah swab PCR nasofaring dan orofaring penyintas menunjukkan hasil negatif.
Gangguan kesehatan lainnya yang juga dikatakan memiliki keterkaitan dengan COVID-19 adalah diabetes mellitus. Tidak dipungkiri, berdasarkan data yang ada, penderita COVID-19 yang memiliki komorbid diabetes mellitus dikatakan memang berpotensi mengalami gejala yang lebih berat dan berpotensi memiliki prognosis yang lebih buruk. Walaupun demikian, beberapa studi yang dilakukan oleh para ahli menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan, di mana sebagian penyintas yang sebelumnya tidak menderita diabetes mellitus, menyatakan kalau mereka mengalami peningkatan gula darah dan terdiagnosis diabetes mellitus setelah sembuh dari COVID-19.
Fenomena diabetes mellitus pada penyintas ini disinyalir terjadi akibat keberadaan reseptor ACE-2 yang berada di sel-sel pankreas, yang mana membuat sel-sel pankreas menjadi ‘target’ dari infeksi COVID-19. Kerusakan pada sel-sel pankreas itulah yang menyebabkan metabolisme gula pada penderita menjadi terganggu, sehingga penderita dan penyintas pun jadi mengalami gangguan toleransi glukosa. Fenomena ini dikatakan lebih berpotensi terjadi pada penderita dan penyintas yang memang sebelumnya telah memiliki faktor risiko untuk mengalami diabetes mellitus, misalnya, pernah memiliki gangguan toleransi glukosa, memiliki riwayat diabetes mellitus pada keluarga sedarah, atau dalam kondisi obesitas.
Fenomena Long Covid juga dirasakan berdampak pada metabolisme hormon penyintas. Sebagian penyintas wanita juga mengeluhkan adanya gangguan haid yang tidak pernah mereka alami sebelum mereka terinfeksi COVID-19. Sekitar 25% penyintas wanita mengeluhkan adanya penambahan volume haid mereka, dan 28% penyintas wanita mengeluhkan adanya perubahan pada siklus haid mereka. Selain itu, banyak juga penyintas wanita yang mengeluhkan adanya bekuan darah haid yang tidak biasa dan adanya perberatan pada pre-menstrual syndrome (PMS).
Sama seperti gangguan lainnya, gangguan haid pada penyintas ini juga disinyalir disebabkan oleh keberadaan reseptor ACE-2 pada organ genitalia wanita, seperti vagina, uterus, endometrium, ovarium, cairan folikel, oocyte, dan sel cumulus. Karena keberadaan reseptor ACE-2 itulah, organ-organ genitalia tersebut turut berpotensi menjadi target infeksi dari SARS-CoV-2.
Selain dari adanya reseptor ACE-2, kondisi stress pada penderita juga disinyalir dapat mengganggu jalur komunikasi hormon dari otak ke organ genitalia, yang mana dapat menyebabkan gangguan pada proses ovulasi. Semakin berat gejala yang diderita oleh penyintas saat terinfeksi COVID-19, semakin berpotensi dirinya mengalami gangguan haid. Walaupun demikian, berdasarkan penelitian yang ada, gangguan haid ini dikatakan tidak permanen, dan dapat membaik dan berangsur normal sekitar 1 – 2 bulan.
Gangguan kesehatan lain yang juga sering dikeluhkan oleh penyintas adalah munculnya ruam pada kulit dan adanya kerontokan rambut. Sekitar 24% dari penyintas COVID-19 mengeluhkan kalau mereka mengalami kerontokan rambut, pada 2 – 3 bulan setelah sembuh dari COVID-19. Kerontokan rambut yang terjadi pada penyintas COVID-19 ini memiliki karakteristik yang berbeda antara pria dan wanita.
Pada wanita, kerontokan rambut yang terjadi umumnya lebih mengarah ke Telogen Effluvium, di mana kerontokan rambut yang terjadi dapat bersifat tiba-tiba, terutama pada saat penyintas mencuci atau menyisir rambutnya. Kondisi ini dapat berlangsung selama 6 – 9 bulan, namun umumnya, nantinya kerontokan ini akan membaik dengan sendirinya, dan rambut akan kembali tumbuh pada bagian kepala yang sempat mengalami kerontokan.
Sementara pada pria, kerontokan yang terjadi umumnya lebih mengarah ke Alopecia Androgenik, yang mana, sayangnya, kerontokan dengan tipe ini umumnya lebih bersifat permanen. Ini artinya, kecil kemungkinan rambut akan kembali tumbuh pada bagian kepala yang sempat mengalami kerontokan, sehingga, membuat penyintas pria tersebut terlihat lebih ‘botak’ pada beberapa bagian kepala.
Gangguan pada ginjal dan sistem kemih juga turut dikeluhkan oleh sebagian dari penyintas COVID-19. Sekitar 20 – 30% dari penyintas COVID-19 yang bergejala berat dan kritis mengatakan kalau mereka terpaksa harus menjalani cuci darah pada saat dan setelah terinfeksi COVID-19. Sebagaimana yang telah kita ketahui, prosedur cuci darah merupakan salah satu pengobatan untuk menggantikan fungsi penyaringan pada ginjal, karena kerusakan pada ginjal sudah sangat berat dan kecil kemungkinan untuk dapat pulih. Keharusan penyintas untuk melakukan cuci darah tentunya tidak hanya berdampak buruk bagi kondisi kesehatannya, melainkan juga dapat mempengaruhi kualitas hidup serta kemandirian dari penyintas tersebut.
Tidak hanya gangguan kesehatan secara fisik, fenomena Long Covid juga dapat menimbulkan gangguan pada psikis penyintas. Beberapa gangguan yang umum dikeluhkan di antaranya adalah gangguan kecemasan, depresi, dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Selain itu, banyak juga penyintas yang mengeluhkan adanya fenomena brain fog, di mana mereka mengalami sekumpulan gejala neurologis berupa gangguan memori, gangguan konsentrasi, gangguan kognitif, disorientasi, dan nyeri kepala yang menetap.
Nah, ternyata fenomena Long Covid itu tidak dapat kita anggap enteng, kan?
Selama ini, sebagian dari kita mungkin masih melihat COVID-19 sebagai penyakit yang ringan, atau sebagai ‘flu biasa’. Pada kenyataannya memang, sebagian besar penderita COVID-19 ‘hanya’ akan mengalami gejala ringan atau bahkan tidak mengalami gejala apapun. Namun, yang sering kita lupa adalah, setiap penyintas COVID-19 akan memiliki kemungkinan untuk mengalami Long Covid, yang mana, sayangnya dapat mempengaruhi kondisi kesehatan serta kualitas hidup dari si penyintas untuk jangka waktu yang lama.
Potensi akan adanya Long Covid inilah yang menyebabkan penyintas COVID-19 sebenarnya masih harus memantau kondisi kesehatannya dengan cukup ketat, bahkan setelah dia dinyatakan sembuh oleh dokter. Para ahli sendiri menyarankan para penyintas untuk masih melakukan kontrol dan follow up secara rutin hingga 12 minggu setelah dinyatakan sembuh, atau bahkan lebih jika penyintas tersebut telah merasakan gangguan kesehatan yang mengarah ke fenomena Long Covid. Selain itu, bagi penyintas yang memiliki komorbid juga lebih disarankan untuk melakukan evaluasi kesehatan, serta melakukan pengobatan secara rutin dan adekuat atas penyakit komorbid yang dideritanya.
Kalau sudah begini, apa kita masih bisa meremehkan COVID-19? Yuk, diketatkan lagi protokol kesehatannya. Karena, hanya dengan usaha bersama lah, COVID-19 bisa kita kalahkan!
***
Artikel
- Campak Kembali Mengancam: Tren Insidensi di Indonesia dan Potensi Wabah di Masa Mendatang
27 Mar 2026
980 kali
- Bencana Banjir: Apakah Kerugiannya Hanya Berdampak pada Asuransi Umum Saja?
13 Mar 2026
477 kali
- Ketika Influenza Berevolusi: Super Flu dan Tantangan Sistem Kesehatan
20 Feb 2026
724 kali
- Virus Nipah: Ancaman Penyakit Emerging yang Harus Diwaspadai dan Pentingnya Perlindungan Asuransi Kesehatan
13 Feb 2026
861 kali
- Urgensi dan Implementasi Pelindungan Data Pribadi (PDP) di Industri Asuransi Jiwa dan Kesehatan
11 Dec 2025
1657 kali
- Mengenal Hantavirus
29 Oct 2025
2155 kali
- Mengenal Diabetes Mellitus Type 5
04 Sep 2025
2714 kali
- Waspada Antraks Menjelang Idul Adha
02 Jun 2025
3538 kali
- Strategi Indonesia dalam Menghadapi Era Ageing Population
21 Apr 2025
17056 kali
- Mengenal Photokeratitis: Ketika Matahari Menyebabkan Dampak Negatif Pada Mata
12 Mar 2025
7569 kali
- Memahami Perubahan Aturan BPJS Kesehatan Serta Pengaruhnya Terhadap Industri Perasuransian Nasional
28 Feb 2025
40279 kali
- Waspada Peningkatan Kasus HMPV di China
08 Jan 2025
20631 kali
- Lonjakan Kasus Pertussis di Singapore: Akankan Menjadi Wabah Baru di Indonesia?
06 Jan 2025
10890 kali
- InsurTech: A Growing Synergy Between Insurance, Technology, and Healthcare
13 Sep 2024
11925 kali
- Sepak Terjang Streptococcal Toxic Shock Syndrome (STSS)
09 Jul 2024
11480 kali
- Pengaruh Penggunaan Proton Pump Inhibitor terhadap Gangguan Kandung Empedu
27 Jun 2024
13377 kali
- Mengenal ‘Disease X’, The Future Next Pandemic?
06 May 2024
11917 kali
- Vertigo dan Meniere’s Disease
02 Apr 2024
10251 kali
- Potensi dan Langkah Mitigasi Bahaya Rokok Elektrik
07 Feb 2024
11065 kali
- Kebangkitan Infeksi Polio di Indonesia
23 Jan 2024
11580 kali
- Mengenal COVID-19 Varian JN.1
22 Dec 2023
10013 kali
- Lonjakan Kasus COVID-19 di Akhir Tahun 2023
20 Dec 2023
9671 kali
- Potret Wabah ‘Pneumonia Misterius’ di Indonesia dan Dunia
07 Dec 2023
11746 kali
- Infeksi HPV, Kanker Cervix, dan Metode Pencegahannya
04 Dec 2023
11141 kali
- Perspektif Kepemilikan Asuransi Penyakit Kritis bagi Kelompok Usia Muda
21 Nov 2023
10392 kali
- Kemunculan Kasus Mpox Kedua: Apakah Berpotensi Menjadi Epidemi Baru di Indonesia?
30 Oct 2023
8861 kali
- Underweight dan Bahaya Kesehatan di Baliknya
10 Oct 2023
13241 kali
- Penggunaan Air Purifier: Apakah Merupakan Solusi Efektif untuk Mengatasi Gangguan Pernapasan akibat Kualitas Udara Buruk?
03 Oct 2023
13895 kali
- Fenomena Peningkatan Insidensi HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga
12 Jun 2023
16268 kali
- Marburg Virus Disease
24 May 2023
10728 kali
- Sudden Sensorineural Hearing Loss
26 Apr 2023
16139 kali
- Tuberculosis pada Anak
10 Apr 2023
15830 kali
- Flu Burung Clade 2.3.4.4b
28 Mar 2023
17392 kali
- Penerapan Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Operasional Industri Perasuransian Nasional
20 Feb 2023
23429 kali
- Memahami Fenomena Bonus Demografi dan Pengaruhnya pada Industri Asuransi Jiwa
26 Jan 2023
36304 kali
- Vaksin Inavac
12 Jan 2023
21740 kali
- Stroke Batang Otak
06 Jan 2023
26630 kali
- Ada Apa dengan China?
28 Dec 2022
18293 kali
- Gonorrhea Superbug
21 Dec 2022
17036 kali
- Crimean-Congo Hemorrhagic Fever
14 Dec 2022
12975 kali
- Vaksin IndoVac
29 Nov 2022
11864 kali
- Cedera Sambaran Petir
24 Nov 2022
13845 kali
- Emboli Paru dan Tragedi Perayaan Halloween di Itaewon
11 Nov 2022
11187 kali
- Covid Subvarian XBB dan XBC
03 Nov 2022
9705 kali
- Fenomena Resistensi Antibiotik dan Infeksi Superbug
26 Oct 2022
11759 kali
- Telaah Fenomena Gagal Ginjal Akut pada Anak
18 Oct 2022
10797 kali
- Penggunaan Kendaraan Listrik dari Perspektif Kesehatan dan Lingkungan
04 Oct 2022
25100 kali
- Zero Covid Policy
22 Sep 2022
10710 kali
- Fenomena Antibody Dependent Enhancement (ADE) pada Sistem Imun
31 Aug 2022
16974 kali
- Mengenal Batuk Berdarah
22 Aug 2022
16136 kali
- Mengenal Virus Langya dan Potensi Emerging Disease
12 Aug 2022
8079 kali
- Long Covid dalam Perspektif Asuransi Jiwa dan Kesehatan
05 Aug 2022
8308 kali
- Covid Centaurus
26 Jul 2022
9543 kali
- Menyikapi Penghapusan Ketentuan Waiting Period pada SEOJK PAYDI
11 Jul 2022
10965 kali
- Telaah Ganja Medis sebagai Alternatif Pengobatan
07 Jul 2022
10743 kali
- Ada Apa dengan BA.4 dan BA.5?
24 Jun 2022
8713 kali
- Ramsay-Hunt Syndrome
20 Jun 2022
6987 kali
- Keterkaitan Asma dengan GERD
10 Jun 2022
10323 kali
- Penyakit Virus Hendra
03 Jun 2022
7317 kali
- Mengenal Cacar Monyet
26 May 2022
7485 kali
- Keterkaitan Infeksi Covid dengan Hepatitis Misterius
19 May 2022
7766 kali
- Hepatitis Misterius
19 May 2022
9075 kali
- Serba-Serbi Sakit Pinggang
11 May 2022
10160 kali
- Evidence Based Medicine
22 Apr 2022
26754 kali
- Mewaspadai Potensi Penyakit Ginjal pada Penyintas Covid
07 Apr 2022
7949 kali
- Penyakit Tipes, Penyakit Masyarakat Indonesia
31 Mar 2022
11065 kali
- Menilik Kesiapan Indonesia vs Negara Tetangga Dalam Melangkah Ke Status Endemi
29 Mar 2022
8080 kali
- Riwayat Pandemi Flu Spanyol 1918
16 Mar 2022
16963 kali
- Son of Omicron
09 Mar 2022
7098 kali
- Vaksin Zifivax
22 Feb 2022
10851 kali
- Bahaya Strobo Bagi Kesehatan
15 Feb 2022
13741 kali
- Flurona, Infeksi Apakah Itu?
02 Feb 2022
8403 kali
- Pentingnya Warna Urine Sebagai Indikator Kesehatan
25 Jan 2022
42678 kali
- Spinal Cord Injury
17 Jan 2022
19767 kali
- Mengenal Gerd
03 Jan 2022
12572 kali
- Tentang Varian Omicron
10 Dec 2021
7409 kali
- Mengenal Nyeri Dada
06 Dec 2021
11202 kali
- Mengenal Insomnia dan Sleep Deprivation
29 Nov 2021
26257 kali
- Mental Health Awareness Di Lingkungan Kerja
23 Nov 2021
14457 kali
- Dampak Kemunculan Virus Covid Subvarian Delta Plus
12 Nov 2021
7830 kali
- Pemberian Vaksin Pfizer Pada Anak
29 Oct 2021
9525 kali
- Risiko Myokarditis Pada Penerima Vaksin MRNA
19 Oct 2021
13094 kali
- Pengajuan Asuransi Jiwa dan Kesehatan Bagi Penyintas Covid
06 Oct 2021
7604 kali
- Tentang Varian Mu
28 Sep 2021
7666 kali
- Tentang Vaksin Sputnik-V
15 Sep 2021
8045 kali
- Badai Sitokin pada Penderita Covid
01 Sep 2021
14798 kali
- Vaksin Moderna Di Indonesia
25 Aug 2021
9358 kali
- Amunisi Pandemi Anak Bangsa
09 Aug 2021
7991 kali
- Pemberian Dosis Booster pada Program Vaksinasi Covid di Indonesia
05 Aug 2021
8688 kali
- Telaah Penggunaan Azithromycin dalam Pengobatan COVID-19
28 Jul 2021
14948 kali
- Peranan Vitamin D dalam Imunitas
23 Jul 2021
12707 kali
- Polemik Ivermectin dalam Pengobatan COVID-19
14 Jul 2021
8879 kali
- Peningkatan Kasus COVID-19 pada Anak di Indonesia
28 Jun 2021
8482 kali
- Peranan Varian Mutasi dalam Lonjakan Kasus COVID-19 di Indonesia
18 Jun 2021
8033 kali
- Wacana Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi COVID-19
14 Jun 2021
12092 kali
- Infeksi Jamur Hitam pada Penderita COVID-19
10 Jun 2021
9471 kali
- Program Vaksinasi Gotong Royong
09 Jun 2021
6861 kali
- Faedah Pemberian Terapi Plasma Konvalesen bagi Penderita COVID-19
04 Jun 2021
10090 kali
- Mengenal Varian P1 dari SARS-CoV-2
30 Apr 2021
7472 kali
- Vaksin COVID-19 untuk Ibu Hamil
19 Apr 2021
7798 kali
- Mengenal Varian Trégor
16 Apr 2021
7263 kali
- Multisystem Inflammatory Syndrome In Children (Mis-C)
24 Mar 2021
17573 kali
- Polemik Vaksin Astrazeneca
19 Mar 2021
10641 kali
- Tentang Varian Mutasi B 117 Yang hadir di Indonesia
15 Mar 2021
6142 kali
- Pengembangan Vaksin Covid-19 Di Indonesia
26 Feb 2021
10121 kali
- Rekomendasi Terbaru Kemenkes Untuk Vaksinasi Covid-19
18 Feb 2021
9693 kali
- Proses Pengelolaan Masker Medis Bekas Pakai
15 Feb 2021
7915 kali
- Pandemic Fatigue
11 Feb 2021
7925 kali
- Telaah Imunitas Dalam Disiplin Ilmu Psikoneuroimunologi
01 Feb 2021
12327 kali
- Fakta-Fakta Terkait Kejadian Kematian Penerima Vaksin Pfizer
22 Jan 2021
9372 kali
- Kesiapan Edar Vaksin Sinovac di Indonesia
15 Jan 2021
9226 kali
- ISOLASI MANDIRI PADA COVID-19
08 Jan 2021
9110 kali
- Mengenal Mutasi VUI-202012/01
04 Jan 2021
7531 kali
- Delirium pada Penderita COVID-19
23 Dec 2020
10256 kali
- Wacana Dimulainya Penyelenggaraan Sekolah Tatap Muka Kembali
23 Dec 2020
6895 kali
- Gangguan Pencernaan Pada Kasus Covid-19
22 Dec 2020
11813 kali
- Potensi Terjadinya Cross-Reactive-Immunity Terhadap Individu Yang Belum Terekspos Sars-Cov-2
21 Dec 2020
8278 kali
- Mengenal Vaksin Pfizer
27 Nov 2020
13551 kali
- Klorokuin Dalam Pengobatan Covid-19
20 Nov 2020
8828 kali
- Dominasi Klaster Perkantoran Pada Pandemi COVID-19
20 Nov 2020
8405 kali
- Risiko Transmisi Covid-19 Dalam Penerbangan
17 Nov 2020
8859 kali
- Antibody Dependent Enhancement
02 Nov 2020
16149 kali
- Mengenal Herd Immunity
24 Jul 2020
9389 kali
- Mungkinkah COVID-19 terjadi pada hewan?
20 Jul 2020
8603 kali
- Virus Flu Babi G4 EA H1N1, Akankan Menjadi Pandemi Baru Di Tahun Ini ?
03 Jul 2020
8958 kali
- Penggunaan Masker Dalam Kehidupan ‘Normal Baru’
26 Jun 2020
8906 kali
- Kilas Balik Penanganan COVID-19 di Indonesia
28 May 2020
8693 kali
- COVID-19 dan Penyakit Kardiovaskular
11 May 2020
8341 kali
- Proses Pembuatan Vaksin
05 May 2020
100495 kali
- COVID-19 dan Demam Dengue
28 Apr 2020
8971 kali
- Mitos dan Fakta tentang COVID-19
23 Mar 2020
8220 kali
- Menangani Gigitan Ular
02 Mar 2020
13002 kali
- Mengenal GERD
24 Feb 2020
11756 kali
- Serba-Serbi Jamu
17 Feb 2020
8910 kali
- Mengoptimalkan Kekebalan Tubuh
10 Feb 2020
7654 kali
- 2019 - Novel Coronavirus
28 Jan 2020
8709 kali
- Vegan vs Vegetarian
20 Jan 2020
9615 kali
- Banjir, Penyakit Pes, dan Leptospirosis
13 Jan 2020
16495 kali
- Serba-Serbi Vitamin D
06 Jan 2020
7194 kali
- Hyperventilation Syndrome
30 Dec 2019
31247 kali
- Pentingnya Kalsium untuk Tubuh
26 Dec 2019
13781 kali
- Serba-Serbi Keluarga Berencana
17 Dec 2019
10978 kali
- Chronic Fatigue Syndrome
09 Dec 2019
13755 kali
- Hipnosis dan Diet Hipnoterapi
03 Dec 2019
13089 kali
- Manfaat Ikan Salmon
25 Nov 2019
12365 kali
- Ulkus Lambung
18 Nov 2019
21990 kali
- Sifilis
12 Nov 2019
29329 kali
- Mengkonsumsi Vitamin C
05 Nov 2019
11719 kali
- Skizofrenia
28 Oct 2019
12608 kali
- Overdosis Kafein
21 Oct 2019
8594 kali
- Bahaya Mengkonsumsi Makanan dan Minuman Panas
16 Oct 2019
23852 kali
- Peran Kolesterol bagi Kesehatan Tubuh
27 Aug 2019
13037 kali
- Penyebab Bau Badan
14 Aug 2019
9252 kali
- Social Drinker
05 Aug 2019
24259 kali
- Mengenal Kandung Empedu
30 Jul 2019
72417 kali
- Nutrisi untuk Rambut
15 Jul 2019
6520 kali
- Mengenal Rambut
08 Jul 2019
56074 kali
- Apakah Menguap Itu Selalu Pertanda Mengantuk
01 Jul 2019
14859 kali
- Serba Serbi Warna Ingus
28 Jun 2019
32992 kali
- Mengenal Cacar Monyet
21 May 2019
8908 kali
- Manfaat Berpuasa bagi Kesehatan
06 May 2019
8057 kali
- Mengapa Garam Dapat Menyebabkan Tekanan Darah Meningkat?
29 Apr 2019
40781 kali
- Mengapa Kita Mengalami Cegukan?
22 Apr 2019
19003 kali
- Manfaat Bawang Putih
15 Apr 2019
14207 kali
- Mau tidur siang? Ternyata ada aturannya, lho!
26 Mar 2019
14813 kali
- Extrapulmonary Tuberculosis
18 Mar 2019
17417 kali
- Manfaat Zat Besi untuk Tubuh
14 Mar 2019
13627 kali
- Hipertensi pada Anak
06 Mar 2019
37410 kali
- Gangguan Psikosomatis
04 Mar 2019
16694 kali
- Pentingnya Tidur Untuk Kesehatan
18 Feb 2019
12756 kali
- Waspada Demam Berdarah Dengue (DBD)!
12 Feb 2019
14665 kali
- Fungsi Usus Buntu
04 Feb 2019
27087 kali
- Serba-serbi Tonsil
28 Jan 2019
41388 kali
- Protein dan Asam Amino
21 Jan 2019
102052 kali
- Mengenal IQOS
14 Jan 2019
51738 kali
- Mengenal Diet Keto
07 Jan 2019
15231 kali
- Serba-Serbi Kurang Tidur
31 Dec 2018
8382 kali
- Kolesterol yang Terlalu Rendah
26 Dec 2018
7982 kali
- Ada Apa dengan Nasi?
26 Dec 2018
10168 kali
- Benarkah Vape Tidak Berbahaya?
11 Dec 2018
13625 kali
- Efusi Pleura
12 Nov 2018
31247 kali
- Pneumonia
06 Nov 2018
14915 kali
- Encephalitis
29 Oct 2018
12560 kali
- Meningitis
22 Oct 2018
15895 kali
- Imunisasi Rotavirus
15 Oct 2018
22554 kali
- Prostatitis
11 Jul 2018
12280 kali
- Cystitis
02 Jul 2018
22305 kali
- Tahan Banting Selama Puasa
04 Jun 2018
7190 kali
- Vaksin untuk anak : Iya atau Tidak?
21 May 2018
7339 kali
- Vaksin Cacar Air, Penting atau Tidak ?
30 Apr 2018
20474 kali
- Eclampsia
23 Apr 2018
9924 kali
- Chikungunya
12 Mar 2018
19825 kali
- Rubeola
05 Mar 2018
17131 kali
- Benign Prostatic Hyperplasia
05 Feb 2018
15313 kali
- Transplantasi Liver
06 Mar 2017
12262 kali
- Diet sehat itu seperti apa?
06 Mar 2017
10649 kali
- Sirosis Hati
06 Mar 2017
25158 kali
- Pre-Diabetes, akankah menjadi Diabetes?
06 Mar 2017
16113 kali
- Kanker Pankreas
03 Mar 2017
14097 kali
- Kanker Lambung
03 Mar 2017
17454 kali
- HFMD
02 Mar 2017
15897 kali
- Cholelithiasis
02 Mar 2017
74891 kali
- Alcohol-Related Liver Disease
02 Mar 2017
12204 kali
- Rokok Elektronik: Penolong dari Ketergantungan atau Alternatif Baru Merokok?
10 Dec 2016
12024 kali