03 December 2019 1237

Hipnosis dan Diet Hipnoterapi

 

Ada yang familiar dengan Dewi Hughes?

Akhir-akhir ini namanya kembali berseliweran di berbagai berita. Bukan karena kegiatannya sebagai entertainer, melainkan, karena keberhasilannya untuk menurunkan berat badannya sebesar 80 kilogram hanya dalam waktu satu tahun! Coba ditengok foto di bawah, sangat berbeda sekali, bukan?

Sumber foto: https://hellosehat.com/berita/diet-ala-dewi-hughes-diet-kenyang/

Berhubung saya bukanlah penulis berita gossip, jadi pastinya saya tidak akan membahas tentang gossip dunia artis dong. Tapi, saya tertarik untuk membahas diet apakah yang dijalani oleh Dewi Hughes sehingga bisa membuatnya kehilangan begitu banyak kilogram hanya dalam waktu yang relatif singkat. Ternyata eh ternyata, diet yang beliau jalani adalah diet hipnoterapi. Bahkan, Dewi Hughes sendiri saat ini juga menjadi praktisi dan pemandu dari diet hipnoterapi.

 

Apa sih, diet hipnoterapi itu? Yuk kita bahas bersama…

Sebelum membahas hipnoterapi, kita harus terlebih dahulu mengenal tentang hipnosis. Mungkin teman-teman pernah melihat ‘acara hipnotis’ yang ditayangkan di TV atau bahkan disaksikan langsung di mall-mall. Nah, sebenarnya itu adalah istilah yang kurang tepat, karena, hipnotis sesungguhnya adalah istilah untuk pelaku dari hipnosis. Jadi sebenarnya, kegiatan ‘membuat orang tertidur’ atau ‘membuat orang mengikuti perintah kita’ yang kita saksikan selama ini dinamakan hipnosis, bukan hipnotis.

Sumber foto: https://ideas.ted.com/how-scientists-are-trying-to-unlock-the-mysteries-of-hypnosis/

Berdasarkan referensi yang saya baca pada U.S. Department of Education, Human Services Division, hipnosis merujuk kepada suatu proses penembusan faktor kritis dari pikiran sadar yang diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugesti pada pikiran bawah sadar. Hipnosis juga dapat diartikan sebagai seni berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar, di mana fokus kita berada dalam kondisi sangat tinggi sehingga mudah untuk menerima informasi atau sugesti.

Pada proses hipnosis, faktor kritis dari pikiran sadar kita tidak bekerja secara maksimal atau sedang ‘diistirahatkan’. Saat itulah terjadi perubahan gelombang otak dari gelombang beta (15 – 30 Hz) ke gelombang alfa (8 – 12 Hz), dan kemudian ke gelombang theta (5 – 8 Hz). Dengan perubahan gelombang tersebut, ‘gerbang’ pikiran bawah sadar kita menjadi terbuka dan pikiran kita terfokus ke pikiran bawah sadar. Inilah saat di mana pikiran kita dapat menerima apapun informasi atau sugesti yang masuk. Oleh karena itu, hipnosis disebut sebagai komunikasi yang berhasil karena memang tidak akan ada penolakan dari pikiran kita.

Apakah semua orang dapat menerima hipnosis?

Sumber foto: https://id.pinterest.com/pin/153263193553818999/?lp=true

Pada dasarnya, informasi atau sugesti tidak akan dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar kita. Hal tersebut dikarenakan adanya ‘penjaga’ dari pikiran bawah sadar yang bernama Reticular Activating System (RAS). RAS ini bekerja non-stop selama 24 jam dan dialah yang akan menyaring informasi dan sugesti yang akan masuk ke pikiran bawah sadar. Jika dinilai kalau informasi atau sugesti yang masuk ‘tidak penting’, maka RAS akan menolak informasi atau sugesti itu untuk masuk ke pikiran bawah sadar.

Selain faktor ‘penjaga’, setiap orang juga memiliki tingkat sugestivitas yang berbeda-beda. Tingkat sugestivitas adalah istilah yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam menerima hipnosis. Alias, perkiraan tingkat keberhasilan hipnosis terhadap orang tersebut. Tingkat sugestivitas itu akan tergantung pada kemampuan fokus dan konsentrasi dari masing-masing orang.

Oleh karena itu, keberhasilan dari hipnosis akan bergantung kepada kemampuan konsentrasi korban, kerelaan korban untuk dihipnosis, dan pemahaman korban atas bahasa atau penyampaian dari hipnotis. Jadi kalau mau menghipnosis bule, jangan pake Bahasa Indonesia apalagi Bahasa Sunda, ya. Ngga bakal berhasil, karena dia juga ngga ngerti Bahasa Sunda J.

Walaupun demikian, pada dasarnya hipnosis bukanlah hal yang asing bagi semua orang. Tanpa kita sadari, kita sebenarnya sering lho mengalami hipnosis dalam keseharian kita. Pernah kita lagi buka-buka Shopee atau Tokopedia kemudian tanpa sadar memasukkan barang ke keranjang, lalu tanpa sadar check out dan melakukan pembayaran? Nah, itu salah satu contoh dari hipnosis, bro dan sis!

Dengan melihat betapa tingginya kemungkinan hipnosis untuk mempengaruhi pikiran kita, para ahli pun memanfaatkan hipnosis untuk kepentingan pengobatan/terapi. Metode pengobatan dengan hipnosis inilah yang dikenal sebagai hipnoterapi. Di mana pengobatan akan ‘difokuskan’ kepada pikiran bawah sadar kita, yang sebenarnya mempengaruhi diri dan kehidupan kita jauh lebih besar –sekitar 80% hingga 90%- dari yang dilakukan oleh pikiran sadar kita. Dengan hipnoterapi, hipnosis dapat dilakukan pada mental, kebiasaan, dan kepribadian seseorang. Itulah mengapa sebuah program yang tertanam di pikiran bawah sadar, akan muncul dalam kehidupan kita. Hal inilah yang mendasari ide dari diet hipnoterapi.

Sumber foto: http://contemporaryfoodlab.com/hungry-world/2016/01/hypnotherapy-the-brain-food-diet/

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Journal of Clinical Pshycology pada tahun 1985 menunjukkan bahwa hipnosis berperan jauh lebih baik dalam membantu seseorang menurunkan berat badan. Penelitian tersebut dilakukan pada 109 sample, yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama melakukan diet biasa (berolahraga dan membatasi makan), sementara kelompok kedua menjalani diet biasa yang dikombinasikan dengan hipnoterapi. Hasilnya, setelah dua tahun, kelompok kedua mengalami penurunan berat badan yang lebih signifikan dan bertahan lama jika dibandingkan dengan kelompok pertama. Orang-orang dari kelompok kedua juga tetap konsisten menjalani gaya hidup sehat jika dibandingkan dengan kelompok pertama. Dari temuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebuah program –dalam hal ini program diet- yang tertanam pada pikiran bawah sadar, akan berdampak lebih kuat dan bertahan lebih lama.

Memang, seberapa besar sih, peran pikiran dalam diet yang dijalani seseorang?

Sumber foto: http://coachrismanaris.com/apa-itu-hipnosis/

Kita harus menilik kembali tentang apa yang membuat seseorang mengalami kelebihan berat badan. Jawabannya sebenarnya hanyalah dia makan lebih banyak daripada yang dia butuhkan. Yang mana, makan berlebih ini dapat disebabkan oleh pola makan yang tidak baik atau orang tersebut memiliki gangguan psikologis yang membuatnya menjadikan makan sebagai pelampiasan. Selama pola makan yang tidak baik dan gangguan psikologis ini masih tersimpan di pikiran bawah sadar kita, diet kita hampir dipastikan tidak dapat berhasil, atau kalaupun berhasil, hasilnya tidak dapat bertahan lama. Inilah mengapa kita memerlukan hipnoterapi, yaitu untuk ‘menginstall mindset’ baru kita untuk menjalani gaya hidup yang sehat.

Apakah ‘hanya’ dengan diet hipnoterapi saja kita bisa langsung langsing?

Ingat, diet hipnoterapi adalah diet yang menggunakan metode hipnosis untuk menanamkan gaya hidup sehat kepada pikiran bawah sadar kita. Hal tersebut tentunya berarti kita tidak boleh hidup dengan ‘sembarangan’, dong. Jika kita bebas makan apa saja yang ‘berbahaya’, tidak melakukan olahraga rutin, dan tidak beristirahat dengan cukup, sepertinya diet kita akan sia-sia dan berarti bawah sebenarnya hipnosis yang kita lakukan belum berhasil. Karena, ketika gaya hidup sehat sudah tertanam dalam pikiran bawah sadar kita, kita justru akan cenderung lebih mudah untuk menjalani gaya hidup tersebut karena gaya hidup tersebut sudah akan kita jalani secara ‘auto-pilot’.

Apakah kita harus meminta bantuan professional untuk menjalani diet hipnoterapi?

Sumber foto: https://www.healthline.com/health/mental-health/self-hypnosis-for-anxiety

Sebenarnya, kita dapat melakukan hipnosis pada diri kita sendiri. Tindakan ini disebut sebagai self-hypnosis. Tindakan self-hypnosis ini meliputi memasuki alam bawah sadar kita untuk kemudian kita memasukkan sugesti-sugesti serta emosi positif ke pikiran kita. Kita juga harus melakukan visualisasi untuk kondisi tubuh yang kita inginkan. Berikan detail pada imajinasinya. Misalnya, kita menginginkan tubuh yang lebih sehat, tidak mudah sakit, dan mampu beraktifitas dengan kuat. Sampaikan imajinasi itu kepada pikiran kita.

Yang perlu menjadi catatan adalah self-hypnosis hanya dapat dilakukan setelah akar masalah penyebab pola makan yang tidak baik atau gangguan psikologis kita teratasi. Hal ini sayangnya hanya dapat dilakukan dengan bantuan hipnoterapis professional. Jadi intinya, sebelum kita melakukan self-hypnosis, kita harus sudah mengenal dan membabat ‘akar permasalahan’ itu dulu, ya.

Oh iya, hal yang paling penting dari diet hipnoterapis adalah repetisi alias pengulangan. Jangan berharap sekali melakukan hipnosis atau self-hypnosis akan langsung berhasil. Kebiasaan yang buruk, pola makan yang tidak baik, atau gangguan psikologis tidak akan selesai dalam sekali percobaan. Kuncinya adalah konsisten dan kesabaran untuk menjalaninya, hingga saat gaya hidup sehat dan program tersebut benar-benar tertanam dalam pikiran bawah sadar kita.

Selamat dan semangat mencoba!

 

********

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id