24 March 2021 1967
Reasuransi Jiwa

Multisystem Inflammatory Syndrome In Children (Mis-C)

Minggu ini, sebuah pemberitaan muncul di sosial media dari seorang Ibu asal Indonesia yang saat ini tinggal di Jerman. Sang ibu menceritakan tentang anaknya yang berusia 3 tahun, yang mana baru pulih dari kondisi yang bernama MIS-C. Pemberitaan ini langsung menarik perhatian netizen –terutama para orang tua- karena kondisi MIS-C sendiri disebut-sebut merupakan salah satu dari komplikasi COVID-19 yang dapat muncul pada anak.

Multisystem inflammatory syndrome in children (MIS-C) merupakan suatu sindrom (sekumpulan tanda dan gejala penyakit) yang ditandai dengan adanya reaksi inflamasi berat pada organ-organ tubuh anak, termasuk di antaranya, otak, pembuluh darah, jantung, paru-paru, ginjal, kulit, mata, dan saluran pencernaan.

Penyebab pasti dari MIS-C sendiri belum diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan studi yang dilakukan oleh US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan National Institute of Health, MIS-C diduga kuat merupakan suatu bentu reaksi sistem imun berlebih dari anak yang pernah terinfeksi COVID-19.

MIS-C sangat erat kaitannya dengan sistem imun anak, oleh karena itu, tanda dan gejala dari MIS-C dapat berbeda pada setiap anak. Umumnya, anak-anak yang mengalami MIS-C akan menunjukkan tanda dan gejala berupa demam, nyeri perut, mual, muntah, diare, nyeri dan kaku pada leher, ruam kulit, kemerahan pada mata, atau kelelahan berat yang menyebabkan anak menjadi lemah dan sangat enggan untuk beraktivitas. Jika orang tua melihat anaknya mengalami satu atau lebih dari tanda dan gejala di atas, sangat direkomendasikan untuk segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan. Apalagi, jika si anak juga menunjukkan tanda kegawatdaruratan berupa kesulitan bernafas, nyeri dada yang menetap, gangguan kesadaran, sianosis, atau nyeri perut berat.

Dokter umumnya akan melakukan anamnesa terkait riwayat penyakit si anak, apakah si anak baru saja sembuh dari COVID-19 atau penyakit lainnya, atau apakah orang di sekitar anak ada yang sedang atau pernah menderita COVID-19. Untuk mengkonfirmasi riwayat penyakit yang digali, dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan fisik serta beberapa pemeriksaan lanjutan lainnya yang terdiri dari pemeriksaan darah, urine, rontgen atau CT scan dada dan perut, USG perut, serta echocardiogram. Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk melihat apakah anak memang sedang mengalami reaksi inflamasi, yang mana dapat dilihat dari adanya kenaikan inflammatory marker pada pemeriksaan darah, serta temuan abnormal pada pemeriksaan-pemeriksaan lainnya. Tak lupa, yang paling penting adalah melakukan pemeriksaan swab RT-PCR untuk mengkonfirmasi apakah saat ini si anak sedang terinfeksi COVID-19, dan pemeriksaan antibodi IgM dan IgG anti SARS-CoV-2 untuk melihat apakah si anak pernah terinfeksi COVID-19.

Pada kasus di Jerman tersebut, orang tua si anak merasa bahwa anaknya tidak pernah terinfeksi COVID-19. Namun ternyata, pemeriksaan antibodi anti SARS-CoV-2 menunjukkan hasil reaktif yang mana membuktikan bahwa si anak pernah terinfeksi COVID-19. Hal tersebut sangat dimungkinkan mengingat bahwa 70 – 80% dari penderita COVID-19 merupakan orang tanpa gejala (OTG) atau hanya menderita gejala ringan saja, yang mana dapat terlewatkan dan tidak dicurigai sebagai COVID-19.

Anak yang menderita MIS-C harus mendapatkan perawatan di rumah sakit agar dapat menerima pengobatan dan perawatan yang diperlukannya. Bahkan, berdasarkan beberapa studi yang ada, sebanyak 64 – 80% dari anak yang mengalami MIS-C perlu mendapatkan perawatan intensif di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Sebanyak 13 – 30% dari anak yang mengalami MIS-C juga disebut memerlukan alat bantu nafas dan 42 – 48% dari mereka memerlukan pengobatan intensif untuk meningkatkan tekanan darahnya. Perawatan intensif sendiri dapat meliputi pemberian terapi oksigen, penggunaan ventilator, atau extracorporeal membrane oxygenation (ECMO). Sementara, untuk pengobatan yang diberikan kepada anak akan bergantung dari tanda dan gejala yang dialami oleh si anak, serta bergantung dari organ tubuh yang terdampak. Namun demikian, umumnya pengobatan dari MIS-C akan meliputi pemberian steroid, IVIG, antibiotik, serta anti-koagulan.

MIS-C sendiri pada dasarnya bukan merupakan penyakit yang menular, selama si anak tidak sedang menderita COVID-19. Inilah pentingnya tidak sekedar melakukan pemeriksaan antibodi, namun juga melakukan pemeriksaan RT-PCR pada anak, yaitu untuk memastikan apakah saat ini si anak masih terinfeksi COVID-19. Sebab, jika saat ini infeksi si anak masih aktif, perawatan anak harus dilakukan di ruangan isolasi untuk mencegah terjadinya penularan pada pasien lain di sekitarnya.
Mayoritas anak yang mengalami MIS-C adalah mereka yang berusia 3 – 12 tahun (usia sekolah). Walaupun demikian, semua anak tetap memiliki kemungkinan untuk mengalami MIS-C apabila terinfeksi COVID-19. Prognosis terjadinya MIS-C pada anak adalah sekitar 0.14% dari anak penyintas COVID-19. Melihat angka tersebut, mungkin kita akan berpikir bahwa kemungkinan anak untuk terkena MIS-C sangaat kecil, sehingga kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Walaupun demikian, angka mortalitas dari MIS-C berada pada kisaran 2 – 4% dan anak yang pernah mengalami MIS-C berpotensi untuk menderita gangguan kesehatan jangka panjang untuk ke depannya.

Nah, MIS-C bukan hal yang patut kita sepelekan, bukan? Kita tidak akan pernah tahu, apakah anak kita yang menderita COVID-19 akan mengalami MIS-C ke depannya. Oleh karena itu, cara satu-satunya untuk menghindarkan anak dari MIS-C adalah dengan mencegahnya dari terinfeksi COVID-19. Bagaimana caranya kita menjaga anak dari terinfeksi COVID-19? Tentu saja, sehubungan dengan saat ini vaksin COVID-19 belum dapat diberikan pada anak, penerapan protokol kesehatan masih merupakan cara satu-satunya untuk mencegah anak terinfeksi COVID-19. Selain itu, kita sebagai orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam program vaksinasi COVID-19 nasional agar herd immunity dapat tercapai dan anak-anak kita akan terlindungi kesehatan dan masa depannya.
 
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id