03 March 2017 4859
Risiko Kesehatan

Kanker Lambung

Kanker lambung adalah keganasan yang menyerang lambung. Jenis kanker lambung yang paling umum terjadi adalah adenocarcinoma, yaitu kondisi ketika kanker menyerang sel-sel pada lapisan dalam lambung yang memproduksi cairan seperti lendir (mukus). Selain adenocarcinoma, ada juga beberapa jenis kanker lambung lainnya seperti:

 

 

 

  1. Tumor stroma gastrointestina (GIST), yaitu kanker yang menyerang jaringan ikat atau otot-otot dinding lambung
  2. Limfoma lambung, yaitu kanker yang menyerang jaringan limfatik atau jaringan yang membantu melawan infeksi.
  3. Carcinoid, yaitu kanker yang menyerang sel-sel penghasil hormon di dalam lambung.

Penyebab kanker lambung masih belum dapat diketahui secara pasti. Namun secara umum, kanker terjadi ketika sel-sel pada bagian tertentu di lambung berkembang secara tidak terkendali. Akibat pertumbuhan berlebihan tersebut, sel-sel yang tadinya memiliki sifat normal untuk membantu tubuh berfungsi dengan baik, justru menjadi terakumulasi menjadi tumor yang bersifat merusak dan dapat menjalar ke bagian-bagian tubuh lainnya.

Beberapa kelompok yang memiliki risiko tinggi terkena kanker lambung antara lain adalah laki-laki, usia 55 tahun ke atas, perokok, riwayat kanker lambung pada keluarga, dan pernah menderita kanker jenis lain sebelumnya. Selain itu beberapa faktor risiko lain yang dapat memicu kanker lambung antara lain adalah terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang dibakar dan diasap.

Gejala kanker lambung pada tahap awal kurang lebih sama dengan gejala penyakit lambung dan saluran pencernaan lainnya seperti kembung, sering bersendawa, nyeri perut, mual, muntah, dan kesulitan mencerna makanan. Namun, seiring perkembangan kanker, akan muncul beberapa tanda dan gejala yang lebih berat seperti muntah darah, feses berdarah atau berwarna hitam, penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, pembengkakan pada perut, dan kelelahan kronis.

Kanker lambung memiliki beberapa stadium sebagai berikut:

Stadium 1

Pada tahap ini kanker sudah mulai tumbuh di dalam lapisan jaringan di dalam lambung atau sudah menyebar pada kelenjar getah bening terdekat.

Stadium 2

Pada tahap ini penyebaran kanker di dalam kelenjar getah bening makin meluas, serta telah menyebar lebih dalam pada lapisan otot dinding lambung.

Stadium 3

Pada tahap ini seluruh lapisan lambung sudah digerogoti kanker atau banyak pertumbuhan kanker kecil yang menyebar ke banyak kelenjar getah bening.

Stadium 4

Ini merupakan tingkat paling parah dari kanker lambung. Pada tahap ini kanker telah menyebar makin jauh dan menyerang organ-organ tubuh lainnya.

 
   

Untuk dapat menegakkan diagnosis kanker lambung, dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta beberapa pemeriksaan lanjutan seperti endoscopy, CT scan, dan MRI.

Endoscopy dilakukan dengan cara memasukkan alat khusus berukuran kecil seperti selang ke dalam lambung melalui kerongkongan. Alat yang dilengkapi kamera ini dapat membantu dokter melihat adanya kanker. Melalui pemeriksaan endoskopi, dokter juga dapat mengambil sampel jaringan lambung untuk kemudian diteliti di laboratorium.

Sementara itu, pemeriksaan CT scan dan MRI dapat digunakan untuk mengetahui seberapa jauh perkembangan kanker, apakah kanker hanya terdapat di dalam lambung atau sudah menyebar ke organ-organ lainnya.

Pengobatan kanker lambung dapat dilakukan melalui beberapa metode. Metode yang digunakan biasanya bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi kesehatan pasien secara umum. Pada kasus kanker lambung yang tidak dapat disembuhkan, pengobatan biasanya bertujuan membuat pasien senyaman mungkin dengan mengurangi gejala yang dirasakannya.

Metode pengobatan yang pertama adalah dengan melakukan radioterapi. Radioterapi bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker. Pada radioterapi, metode pengobatan dilakukan dengan menggunakan pancaran energi radiasi. Biasanya metode radioterapi diterapkan pada kasus kanker lambung stadium tinggi dengan gejala pendarahan.

Selain itu, dapat dilakukan juga metode kemoterapi yang bertujuan untuk membunuh sel-sel kanker melalui pemberian sejumlah obat-obatan. Obat-obatan ini dapat berbentuk tablet yang diminum, infus, atau kombinasi keduanya. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum tindakan pembedahan bertujuan untuk menyusutkan tumor, meredakan gejala yang dirasakan pasien, atau memperlambat penyebaran kanker. Kemoterapi juga bisa diberikan pascaoperasi untuk mencegah kanker kembali.

Jenis pembedahan kanker lambung yang dilakukan tergantung dari tingkat keparahan penyebaran kanker itu sendiri. Misalnya apabila kanker yang terdiagnosis masih dalam tahap awal dan baru berkembang di dinding lambung, maka prosedur yang disebut reseksi endoskopi bisa dilakukan. Melalui prosedur ini dokter tidak perlu membedah pasien dan cukup memasukkan alat endoskop ke lambung melalui mulut dan kerongkongan. Dengan alat khusus yang dilengkapi kamera ini, dokter dapat mengangkat kanker dari lapisan lambung dan menyisakan jaringan yang masih sehat.

 

   


Prosedur pembedahan lain yang dapat dilakukan adalah gastrektomi parsial. Pada prosedur ini, dokter akan melakukan pembedahan pada perut pasien untuk mengangkat bagian lambung yang terinfeksi kanker. Gastrektomi parsial umumnya dilakukan jika kanker masih berada di lambung bagian bawah dan belum menyebar ke bagian tengah dan atas.

Untuk kanker lambung yang telah menyebar dapat dilakukan gastrektomi total. Pada kasus ini dokter akan mengangkat seluruh lambung pasien dan langsung menghubungkan usus halus dengan ujung saluran kerongkongan. Pada kanker yang telah mengalami penyebaran juga dapat dilakukan pengangkatan kelenjar getah bening untuk mencegah kekambuhan dan penyebaran kanker.

Penderita kanker lambung yang dideteksi dini memiliki prognosis cukup baik. Namun, sayangnya kanker lambung termasuk jenis kanker yang tidak mudah dideteksi sejak awal. Pembedahan yang dilakukan juga tidak menjamin tidak terjadinya rekurensi. Sekitar 26% kasus rekurensi didapatkan setelah dilakukan pembedahan kanker lambung.

 

 

********

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id