21 May 2018 1118

Vaksin untuk anak : Iya atau Tidak?

Dari begitu banyak perdebatan yang terjadi di dunia kesehatan anak, pemberian vaksin adalah tema yang paling banyak mengundang kontroversi. Bagi sebagian orang, vaksin adalah temuan yang sangat penting di dunia kesehatan, tentunya karena manfaat vaksin yang dielu-elukan sebagai salah satu sarana pencegahan penyakit. Namun, ternyata tidak semua orang berpendapat demikian. Banyak orang juga yang menyatakan dirinya sebagai golongan anti-vaksin dengan berbagai alasan, mulai dari efek samping vaksin yang dipercaya ‘membawa celaka’, hingga kandungannya yang dipercaya tidak halal menurut agama tertentu.

Sumber Gambar : tirto.id

Pro-vaksin versus anti-vaksin memang sudah sejak lama mengundang kontroversi. Salah satu argument utama dari golongan anti-vaksin adalah efek samping yang ditimbulkan oleh vaksin, yaitu peningkatan risiko disabilitas pada anak, baik dari sisi fisik maupun mental. Ada beberapa kasus kecacatan yang dilaporkan dicurigai disebabkan oleh pemberian vaksin. Kelompok ini adalah mereka yang takut akan efek KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi), yang umumnya dikaitkan dengan kematian mendadak pasca-imunisasi, hingga terjadinya autisme.

Jenny McCarthy, selebriti dari Amerika, merupakan salah satu tokoh yang memproklamirkan dirinya sebagai golongan anti-vaksin. Sikapnya cenderung sangat vokal terhadap vaksin, terutama vaksin untuk penyakit campak, gondok, dan rubela (MMR). Dia percaya vaksin itulah yang memicu anaknya, Evan, mengalami autisme. Pendapat Jenny McCarthy ini dipercaya karena adanya andil dari penelitian Dr. Andrew Wakefield yang diterbitkan di jurnal medis Inggris, The Lancet, yang mana tidak lama kemudian penelitian ini dibantah dan ditarik kembali, setelah dilaporkan bahwa data Wakefield ternyata palsu. Menurut Brian Deer, jurnalis investigatif untuk London’s Sunday Times, Wakefield dibayar lebih dari £400.000 ($665.000) oleh seorang pengacara yang bertujuan untuk membuktikan bahwa vaksin tersebut tidak aman.

Sumber Gambar : vemale.com

Namun, selain Jenny McCarthy, masih banyak lagi golongan anti-vaksin yang mempercayai kalau vaksinasi dapat menyebabkan autisme pada anak. Kandungan merkuri yang tinggi, dipercaya dapat mencetuskan autisme pada anak. Kadar merkuri diduga didapatkan dari alumunium yang menjadi tutup vaksin. Bagaimana kebenarannya? Wallahualam.

Ada juga golongan anti-vaksin yang beranggapan kalau vaksin adalah bagian dari konspirasi dunia. UNICEF dalam catatannya tentang gerakan anti-vaksin di Eropa Barat mengungkapkan kalau ada kecurigaan dari pihak anti-vaksin terhadap pemerintah dan perusahaan farmasi. Vaksinasi dan imunisasi dianggap sebagai lahan untuk mencari keuntungan dengan dalih melindungi kesehatan.

Isu agama juga tak luput dari perhatian golongan anti-vaksin, di mana ada bahan vaksin yang disebut-sebut mengandung lemak babi. Beberapa vaksin memang dipercaya menggunakan katalisator dari enzim tripsin babi, yang sudah pasti dipandang haram dalam agama Islam.

Saya, sebagai seorang ibu, pernah mendatangi beberapa DSA untuk berdiskusi tentang ‘kandungan’ babi dalam vaksin ini. Ada DSA yang penuh keyakinan berkata kalau memang beberapa vaksin yang beredar di pasaran memang mengandung babi. Beliau juga berkata kalau memang kita tidak berkenan memberikan vaksin ke anak kita, ya tidak masalah. Penyakit infeksi yang mengancam jika kita tidak memberikan vaksin itu toh bukannya penyakit infeksi yang tidak ada obatnya.

Ada pula DSA yang memiliki keyakinan lain. Beliau yakin kalau enzim tripsin yang digunakan memang hanya sebagai katalisator, alias pemicu reaksi, bukan bagian dari vaksin. Sehingga jika enzimnya berasal dari babi sekalipun, enzim tersebut tidak ada pada hasil akhir si vaksin. FYI, DSA ini adalah seorang muslimah berjilbab. Jadi tidak ada konflik interest dari segi agama ya.

MUI Pusat juga turun tangan memberikan pendapat. Setelah proses pengkajian yang tidak singkat, akhirnya MUI mengeluarkan Fatwa MUI No. 4 Tahun 2016 yang menimbang ketentuan umum imunisasi dan vaksinasi sebagai proses untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit tertentu. Hukum yang dianut berbasis pada adh-dharurat yang berarti dalam kondisi darurat, hal-hal yang terlarang dibolehkan serta al-hajat yang berarti dalam kondisi terdesak sehingga menyebabkan penyakit berat atau kecacatan.

Intinya, MUI menyatakan kalau imunisasi dan vaksinasi pada dasarnya bersifat mubah atau diperbolehkan sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh dan mencegah terjadinya penyakit.

Berbekal fatwa MUI ini, bismillahirrahmanirrahim, saya dan suami memutuskan memberikan vaksinasi untuk anak gue. Pertimbangannya tentu saja, untuk menghindari mudharat alias penyakit atau kecacatan yang timbul akibat penyakit. Walaupun penyakit yang mengancam dikatakan ada obatnya, tetap saja ya mencegah lebih baik daripada mengobati.

Dari faktor agama, bukan hanya umat muslim saja yang memperdebatkan kehadiran vaksin. Ada umat non-muslim di Amerika Serikat yang juga berpendapat kalau vaksin tidak diperlukan oleh anak. Tubuh manusia dia yakini tidak perlu diberi campur tangan material asing. Biarlah apa yang diciptakan Tuhan tidak diutak-atik oleh manusia, apalagi tubuh manusia sudah cukup ‘pintar’ untuk dapat menyembuhkan dirinya sendiri tanpa campur tangan material asing, demikian kepercayaan mereka.

Apapun argumennya, gerakan anti-vaksin ini dikecam banyak pihak. My kids, my rule adalah slogan yang sering dipakai para orangtua untuk menegakkan otoritasnya dalam hal pengasuhan anak. Sayangnya, hal ini tidak berlaku dalam wabah penyakit. Ada anak-anak berkebutuhan khusus yang tidak bisa divaksin, sehingga mengandalkan lingkungannya agar senantiasa sehat sehingga ia tetap sehat. Ada ibu-ibu hamil yang bisa keguguran atau janinnya lahir cacat karena tertular virus rubella, virus yang bagi anak-anak tidak terlalu berbahaya dan bisa dicegah dengan vaksin MMR.

Saya pribadi setuju kalau vaksin yang ada saat ini belum bisa dibilang sempurna. Ada efek sampingnya, ya. Lihat saja, setelah vaksin pasti ada di antara kita yang mengalami efek samping seperti pegal pada area penyuntikan, atau demam.

Sumber Gambar : nvic.org

Saya juga yakin, semua orang tua baik yang pro-vaksin maupun anti-vaksin adalah orang tua yang mencintai anaknya. Mereka yang pro-vaksin tentu ingin anaknya terhindar dari penyakit infeksi dan melindungi anak-anak lain agar juga sehat. Mereka yang ant-ivaksin juga menyayangi anaknya, sehingga ingin menjamin keamanan dan kehalalan semua zat yang masuk ke tubuh anaknya, menghindarkan anaknya dari senjata biologis, dan tentu ingin anaknya tumbuh sehat tanpa disabilitas.

Bagaimana kalau ada ibu-ibu atau orang tua yang berbeda pendapat? Monggo. Pada akhirnya itu pilihan masing-masing, kan? Yang penting, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya.

***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id