26 May 2022 444
Reasuransi Jiwa

Mengenal Cacar Monyet

Kemunculan dan peningkatan kasus Cacar Monyet di beberapa negara pada beberapa waktu ke belakang telah menimbulkan kegelisahan pada masyarakat di dunia. Pasalnya, belum bebas dunia ini dari Pandemi Covid, sudah muncul beberapa penyakit infeksi yang jumlah kasusnya nampak meningkat akhir-akhir ini, di antaranya adalah Hepatitis Misterius dan Cacar Monyet. Nah, sebenarnya apakah yang dimaksud dengan penyakit Cacar Monyet, dan apakah sama seperti Covid dan Hepatitis Misterius, penyakit ini juga dapat menimbulkan fatalitas yang tinggi pada penderitanya?
 
Cacar Monyet alias Monkeypox merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Virus Monkeypox. Kasus Cacar Monyet pertama kali terdeteksi pada monyet di penangkaran laboratorium pada tahun 1958. Adapun kasus pertama Cacar Monyet pada manusia ditemukan di Kongo, Afrika Selatan pada tahun 1970. Sampai saat ini memang tercatat bahwa sebagian besar kasus Cacar Monyet ditemukan di Benua Afrika (Afrika Tengah dan Afrika Barat).
 
Penyakit Cacar Monyet sendiri sebenarnya sempat tereradikasi selama sekitar empat dekade, hingga akhirnya sempat terdeteksi kembali pada tahun 2017. Oleh karena itu, peningkatan kasus Cacar Monyet pada tahun 2022 ini menjadi perhatian dunia, dan menimbulkan pertanyaan terkait apakah sebelumnya penyakit ini memang benar telah tereradikasi atau hanya tidak terdeteksi, ataukah, Virus Monkeypox di tahun 2022 ini mengalami mutasi, sehingga penularannya dapat terjadi lebih masif dan peningkatan kasusnya pun akhirnya menarik perhatian masyarakat dunia?
 
Pada dasarnya, Cacar Monyet merupakan penyakit zoonosis, yang artinya merupakan infeksi yang ditularkan dari hewan ke manusia. Penularan dari hewan ke manusia terjadi apabila manusia terpapar Virus Monkeypox akibat cakaran atau gigitan hewan yang terinfeksi. Meskipun demikian, pada beberapa kasus telah dibuktikan adanya penularan dari manusia ke manusia. Adapun penularan antar manusia dapat terjadi melalui percikan droplet penderita yang mengenai mukosa mata, mulut, atau hidung, serta melalui kontak dengan luka di kulit ataupun kontak dengan benda yang terkontaminasi oleh penderita.
 
Mungkin teman-teman juga telah mendengarkan ‘isu’ terkait adanya metode penularan Cacar Monyet melalui hubungan seksual. Isu ini diluruskan oleh World Health Organization (WHO), yang menyatakan bahwa infeksi Cacar Monyet memang dapat ditularkan saat terjadi kontak seksual dengan penderita. Meskipun demikian, penularan yang terjadi lebih merupakan akibat dari adanya kontak langsung/tatap muka, dan tidak spesifik harus merupakan kontak seksual. Oleh karena itu, tidak tepat apabila dikatakan bahwa Cacar Monyet merupakan salah satu dari infeksi menular seksual (IMS).
 
Hingga bulan Mei 2022, tercatat telah dilaporkan lebih dari 450 kasus di seluruh Afrika, dan sekitar 52 kasus di luar Afrika sejak tahun 2003 – 2019. Tingginya jumlah kasus di Afrika disebabkan oleh tingginya eksposur masyarakat Afrika terhadap hewan liar yang menjadi inang dari Virus Monkeypox, yaitu monyet (selaku inang utama), tupai, dan tikus. Secara umum, temuan kasus Cacar Monyet di luar Afrika dapat dikatakan sangat jarang terjadi. Kasus-kasus yang dapat dikatakan ‘langka’ pun umumnya terkait dengan adanya riwayat perjalanan penderita ke Afrika, atau adanya riwayat kontak dengan hewan yang diimpor dari Afrika. Sepanjang tahun 2022 ini, temuan kasus Cacar Monyet terbaru di luar Afrika didapatkan di Inggris (sebanyak empat kasus) dan di Israel (sebanyak 13 kasus). Di Indonesia sendiri, sampai saat ini memang belum ditemukan adanya kasus konfirmasi Cacar Monyet. Meskipun demikian, hal tersebut tidak harus membuat kita lengah dan tidak mewaspadai akan adanya potensi terinfeksi Cacar Monyet. Lebih baik waspada, dibanding menyesal, bukan?
Untuk mewaspadai suatu penyakit, tentunya kita harus mengenali dan memahami gejala serta perjalanan dari penyakit tersebut. Secara umum, infeksi Cacar Monyet memiliki waktu inkubasi sekitar 5 – 21 hari. Hal ini berarti, terdapat jeda waktu yang cukup panjang antara waktu seseorang terpapar virus dengan waktu infeksinya mulai aktif dan menimbulkan gejala. Adapun perjalanan penyakit Cacar Monyet terbagi menjadi dua fase, yaitu fase invasi dan fase erupsi kulit.
 
Pada fase invasi (awal infeksi, yaitu 0 – 5 hari setelah terpapar virus), penderita akan mengeluhkan adanya demam, meriang/menggigil, keletihan, nyeri kepala, serta nyeri otot. Selain itu, penderita juga umumnya mengeluhkan adanya pembengkakan kelenjar getah bening, yang merupakan gejala khas dari Cacar Monyet, karena penyakit Cacar lainnya (misalnya, Cacar Air dan Cacar Api) tidak menyebabkan terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening.
 
Pada beberapa kasus tampak jelas adanya perbedaan gejala pada penderita yang terinfeksi dari sesama manusia, jika dibandingkan dengan penderita yang terinfeksi langsung dari hewan inang. Beberapa kasus yang disebutkan dalam publikasi Clinical Manifestations of Human Monkeypox menyebutkan bahwa penderita yang terinfeksi melalui jalur percikan droplet ke saluran pernafasan umumnya juga akan menunjukkan adanya gangguan pernafasan, seperti batuk, radang tenggorokan, dan hidung berair. Sementara itu, penderita yang terinfeksi langsung dari hewan inang (misalnya, tergigit atau tercakar) akan cenderung menunjukkan gejala berupa mual dan muntah.
 
Fase invasi akan berlangsung selama beberapa hari sampai satu minggu –umumnya 1 – 3 hari setelah demam-, sebelum akhirnya masuk ke fase erupsi kulit. Serupa dengan penyakit cacar lainnya, infeksi Cacar Monyet juga ditandai dengan munculnya bintil berair (vesicle) pada permukaan kulit, di mana umumnya bintil-bintil tersebut pertama kali muncul di area wajah, sebelum akhirnya menyebar ke area leher, ketiak, tangan, dan area-area tubuh lainnya. Bintil-bintil tersebut bahkan dapat muncul di mukosa tubuh, seperti mukosa tenggorokan, area alat kelamin, serta mata.
 
Setelah beberapa waktu, ukuran bintil-bintil berair tersebut akan membesar, dan ‘isinya’ pun akan berubah dari cairan bening menjadi nanah. Dalam sekitar 10 hari, bintil-bintil berisi nanah tersebut akan pecah atau mengering, serta nantinya akan membentuk krusta/keropeng, sebelum akhirnya mengelupas dan menghilang. Secara umum, fase erupsi kulit ini akan berlangsung sekitar 10 hari sampai dua minggu.

Tampakan klinis dari penderita Cacar Monyet menjadi landasan utama bagi dokter untuk menegakkan diagnosis Cacar Monyet, serta tentunya didukung oleh anamnesis terhadap pasien, terkait apakah dirinya memiliki riwayat kontak dengan penderita Cacar Monyet, atau riwayat kontak dengan hewan liar yang berpotensi menjadi inang Virus Monkeypox. Sebagai pendukung diagnosis, dokter mungkin juga akan melakukan pemeriksaan tambahan berupa tes darah, swab PCR, ataupun biopsy kulit. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut terutama dilakukan pada kondisi kenaikan kasus seperti yang tengah berlangsung saat ini, yang mana pemeriksaan-pemeriksaan tersebut lebih ditujukan untuk melakukan contact tracing dan pembatasan transmisi infeksi.
 
Bagaimana cara kita mengobati penyakit Cacar Monyet?
 
Pada dasarnya, Cacar Monyet adalah penyakit infeksi virus yang memiliki tingkat kesembuhan yang sangat tinggi, serta dapat sembuh sendiri dengan perawatan mandiri di rumah. Meskipun demikian, penderita Cacar Monyet harus melakukan isolasi untuk mencegah penularan terhadap orang-orang di sekitarnya. Apabila kita serumah dengan penderita Cacar Monyet, kita diharuskan menggunakan masker dan membatasi kontak langsung agar tidak tertular infeksi tersebut.
Sampai saat ini, belum ada pengobatan spesifik yang diperuntukkan bagi penderita Cacar Monyet. Meskipun demikian, pada sebagian kasus dokter akan meresepkan Tecovirimat yang bekerja dengan cara menghambat multiplikasi Virus Monkeypox yang ada dalam tubuh. Sayangnya, obat ini hanya dapat dikonsumsi oleh orang dewasa dengan berat badan ? 40 kg atau anak dengan berat badan ? 13 kg. Meskipun demikian, tak perlu terlalu khawatir karena Cacar Monyet pada dasarnya dapat sembuh sendiri dalam waktu 2 – 4 minggu.
 
Apakah pernah terjadi fatalitas pada kasus infeksi Cacar Monyet?
 
Ya, meskipun dikatakan memiliki survival rate dan tingkat kesembuhan yang tinggi, infeksi Cacar Monyet masih dapat menyebabkan fatalitas, terutama bagi kelompok dengan imunitas yang kurang baik, misalnya kelompok usia sangat dini (bayi dan balita), lansia, atau orang yang menderita komorbid. Cacar Monyet juga masih berpotensi menimbulkan beberapa komplikasi seperti adanya infeksi sekunder bakteri, infeksi dan peradangan paru-paru, infeksi dan peradangan otak (encephalitis), serta infeksi dan peradangan kornea mata (keratitis).
 
Bagaimana kita berupaya untuk mencegah terpapar dan terinfeksi Cacar Monyet?
 
Pencegahan utama dari infeksi Cacar Monyet adalah dengan menghindari kontak langsung dengan penderita Cacar Monyet, serta hewan primata dan pengerat, yang berpotensi tinggi menjadi inang dari Virus Monkeypox. Selain itu, hendaknya kita juga melakukan upaya-upaya pencegahan lainnya, seperti menjaga kebersihan, senantiasa mencuci tangan, menghindari sharing alat makan, menghindari mengkonsumsi daging hewan liar, serta memasak daging dan bahan makanan lainnya sampai matang.
 
Apakah terdapat vaksin khusus yang diperuntukkan bagi pancegahan Cacar Monyet?
 
Cacar Monyet dapat dibantu dicegah dengan pemberian Vaksin Cacar (Smallpox). Sayangnya, banyak negara telah menghentikan Vaksinasi Smallpox sejak tahun 1980an, karena penyakit tersebut telah dinyatakan tereradikasi dari dunia pada kisaran tahun tersebut. Di Indonesia sendiri, infeksi Smallpox telah dinyatakan tereradikasi sejak tahun 1974. Oleh karena itu, warga Indonesia kelahiran tahun 1980an sudah tidak menerima Vaksin Smallpox, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar warga Indonesia tidak memiliki kekebalan terhadap Smallpox maupun Monkeypox.
 
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 23 Mei 2022 lalu menyampaikan bahwa US Health Officials dan US Food and Drug Administration (FDA) sedang dalam proses mempersiapkan dan mendistribusikan Jynneos vaccine dose yang diperuntukkan bagi upaya pencegahan Monkeypox. Jynneos merupakan Vaksin Smallpox yang dikembangkan oleh Bavarian Nordic A/S, dan telah mendapat persetujuan dari US Health Officials dan US FDA, sebagai bagian dari upaya pencegahan kasus Smallpox dan Monkeypox. Adapun vaksin tersebut dapat diberikan kepada orang dewasa berusia ? 18 tahun.
 
CDC menyampaikan bahwa pada tahun 2019 lalu, US Health Officials tercatat telah memiliki 1,000 Vaksin Jynneos, dan jumlah tersebut akan siap untuk dilipatgandakan dalam beberapa minggu ke depan. CDC berharap bahwa vaksin-vaksin yang nantinya ada dapat didistribusikan pada kelompok yang berisiko terinfeksi Monkeypox, seperti petugas kesehatan, petugas satwa liar, atau kelompok orang dengan komorbid.
 
Jynneos diketahui 85% efektif mencegah Smallpox maupun Monkeypox. Pemberian dua dosis Vaksin Jynneos dalam 28 hari terbukti dapat menguatkan respon sistem imun dibandingkan satu dosis vaksin cacar sebelumnya. Hal yang disayangkan adalah ketersediaan Jynneos di pusat layanan kesehatan publik yang masih sangat terbatas. Di Indonesia sendiri pun sampai saat ini masih belum tersedia Vaksin Jynneos, ataupun vaksin lainnya yang dapat mencegah Smallpox atau Monkeypox. Oleh karena itu, yuk, kita melakukan upaya pencegahan lainnya –seperti menjaga kebersihan dan menghindari potensi eksposur-, agar kita dan orang-orang terdekat terhindar dari paparan dan infeksi Cacar Monyet.

Stay safe and healthy, semuanya!
 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id